Sebaliknya, pengeluaran untuk bahan bakar turun 3,7 persen menjadi USD58,3 miliar, sejalan dengan penurunan 9,5 persen harga rata-rata avtur dunia menjadi USD88,8 per barel. Alhasil, porsi biaya bahan bakar terhadap total biaya operasional menyusut 2,3 poin persentase menjadi 27,8 persen pada 2025.
Direktur Jenderal AAPA, Wong Hong, mengatakan maskapai di Asia Pasifik memasuki 2025 dengan fondasi bisnis yang kuat. Permintaan penumpang dan kargo yang tetap solid berhasil menopang pertumbuhan laba meski tekanan biaya operasional masih berlangsung.
“Penurunan harga bahan bakar memang memberikan ruang bernapas, tetapi gangguan rantai pasok dan tekanan inflasi terus mendorong kenaikan biaya operasional nonbahan bakar. Meski demikian, maskapai di kawasan mampu mempertahankan margin operasi sebesar 6,4 persen berkat disiplin operasional dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar,” ujar Wong Hong.
Meski demikian, AAPA mengingatkan tantangan industri masih berlanjut. Konflik di Timur Tengah dan meningkatnya ketegangan geopolitik diperkirakan akan memicu volatilitas harga minyak dan nilai tukar, yang berpotensi meningkatkan biaya operasional maskapai.
Menurut Wong Hong, kenaikan tajam harga avtur dalam beberapa bulan terakhir diperkirakan akan membuat pengeluaran bahan bakar, komponen biaya terbesar maskapai meningkat sepanjang tahun ini.
Kendati menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi, prospek industri penerbangan Asia Pasifik masih dinilai positif. AAPA memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan sebesar 4,4 persen pada tahun ini akan tetap menopang permintaan perjalanan udara dan angkutan kargo, seiring maskapai terus memperluas jaringan penerbangan sambil menjaga efisiensi biaya.
(Shifa Nurhaliza Putri)