IDXChannel - Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) diperkirakan mencetak laba pada level tertinggi sejak 2022. Namun, kondisi ini berpotensi memicu benturan dengan Donald Trump, yang saat ini mendesak industri minyak besar (Big Oil) untuk menurunkan harga bensin menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Melansir Reuters, Minggu (5/7/2026), Exxon Mobil dan Chevron diperkirakan melaporkan laba kuartal II lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal pertama.
Harga minyak melonjak setelah perang Timur Tengah dimulai pada akhir Februari, sehingga pasokan bahan bakar global menjadi lebih ketat.
Berbulan-bulan masyarakat AS mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar. Kenaikan harga bensin juga memperkuat kritik dari Partai Demokrat yang berharap dapat merebut kembali kendali atas Kongres AS. Selain itu, tingginya harga BBM turut menekan tingkat persetujuan publik terhadap Trump karena banyak warga AS menilai perang dengan Iran tidak sepadan dengan biaya yang ditimbulkannya.
Pemerintahan Trump telah meminta United States Department of Justice untuk menyelidiki dugaan praktik penggelembungan harga bensin. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memperingatkan produsen dan perusahaan penyulingan minyak bahwa Gedung Putih dapat mempertimbangkan langkah administratif jika harga BBM di SPBU tidak turun secara signifikan.