AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20116.20
-0.27%
-55.07
N225
26604.84
-0.27%
-72.96
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,038 / gram

Lifting Tak Capai Target, Pengusaha Migas: Indonesia Tak Lagi Menarik Bagi Investor

ECONOMICS
Ikhsan Permana SP/MPI
Jum'at, 13 Mei 2022 18:39 WIB
Dari sejumlah target lifting yang telah ditetapkan, faktanya tidak dapat direalisasikan dalam praktik kerja di lapangan.
Lifting Tak Capai Target, Pengusaha Migas: Indonesia Tak Lagi Menarik Bagi Investor (foto: MNC Media)
Lifting Tak Capai Target, Pengusaha Migas: Indonesia Tak Lagi Menarik Bagi Investor (foto: MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah mengkonfirmasi melesetnya target kinerja di sektor migas pada triwulan I/2022 lalu. Dari sejumlah target lifting yang telah ditetapkan, faktanya tidak dapat direalisasikan dalam praktik kerja di lapangan.

Lifting minyak bumi, misalnya, yang ditarget mampu mencapai 703.000 barrel oil per day (BOPD), terbukti hanya mampu direalisasikan sebanyak 611.700 BOPD. Sedangkan lifting gas bumi yang diharapkan mencapai 5.800 million standard cubic feet per day (MMSCFD) juga hanya tercapai 5.321 juta MMSCFD.

"Ada banyak hal (penyebab) lifting tidak tercapai. Salah satunya adalah fakta bahwa secara geologi Indonesia saat ini tidak lagi menarik, sehingga kita sulit mencari investor baru," ujar Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (ASPERMIGAS), Mustiko Saleh, dalam program Market Review di IDX Channel, Jumat (13/5/2022).

Menurut Mustiko, kapasitas produksi migas nasional dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan signifikan. Artinya, secara geologi tanah Indonesia saat ini sudah tidak mampu lagi untuk menggantikan produksi yang telah dikeluarkan melalui serangkaian kegiatan eksplorasi.

"Kondisi inilah yang membuat Indonesia saat ini di mata investor sudah kurang menarik secara geologi," tutur Mustiko.

Kondisi tersebut, lanjut Mustiko, diperparah dengan belum adanya revisi undang-undang terkait migas yang menyebabkan tidak ada kepastian hukum bagi para pekerja di bidang migas.

"Sampai sekarang revisi undang-undang migas itu belum ada. Jadi kepastian hukum untuk orang-orang yang bekerja di Indonesia bidang migas juga tidak ada," ungkapnya.

Mustiko juga mengeluhkan sulitnya mengurus perizinan terkait migas, dia menjelaskan terlalu banyak  aturan yang harus dilaksanakan, padahal kegiatan itu diatur oleh pemerintah pusat. Dia mengharapkan penerapan one door policy supaya tidak terlalu banyak tahapan yang harus dilewati.

"Fakta menunjukan perizinan itu sangat bertele-tele di Indonesia, perlu one door policy sebenarnya one door policy udah ada undang-undang pemerintah negara Indonesia apa itu pertahanan negara, kegiatan migas itu diatur oleh pemerintah pusat. tetapi apa yang terjadi, ada pergub ada pebup bahkan perkebunan-perkebunan  kalau kita mau ngebor itu susah bener gak dikasih tempat," papar Mustiko.

Terakhir Mustiko mengharapkan agar pucuk pimpinan di bidang migas harus dari seorang professional dibidangnya agar keputusan-keputusan yang diambil bersifat pasti dan tidak membingungkan.

"Pimpinan di bidang migas ini harus seorang professional dong, jangan asal ambil dari sana ambil dari sini gimana, kegiatan migas itu sesuatu yang bersifat teknologi tinggi, cost tinggi, resiko tinggi dan perlu orang yang berpengalaman, kalau bukan orang yang berpengalaman tuh keputusannya ngambang," tegas Mustiko. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD