"Infrastruktur digital tidak cukup hanya berkapasitas besar, tetapi harus mampu beradaptasi secara cepat, fleksibel, dan terukur,” kata Armand, Kamis (10/9/2026).
Menurut Armand, kapasitas perbankan dapat berubah mengikuti month-end, year-end closing, payroll processing, disaster recovery, peluncuran aplikasi, maupun kondisi tidak terjadwal. Karena itu, connectivity perlu berkembang dari infrastruktur yang fixed menjadi lebih adaptif.
Transformasi tersebut perlu didukung empat kapabilitas utama, yaitu Agile dalam merespons perubahan, Scalable dalam menyesuaikan kapasitas, Resilient dalam menjaga keandalan, serta Ready menghadapi peak events, disaster recovery, dan tuntutan regulasi.
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2022-2026, Sophia Isabella Wattimena, menekankan pentingnya penguatan infrastruktur teknologi dalam mendukung transformasi digital perbankan.
"Transformasi digital perbankan perlu berjalan seiring dengan penguatan kapabilitas infrastruktur teknologi. Keandalan, keamanan, manajemen risiko, serta kemampuan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan industri menjadi semakin penting," katanya.
Melalui BWoD, setelah proses setup awal, perubahan bandwidth berikutnya dapat dilakukan secara mandiri melalui ULTIMA tanpa proses pemesanan manual maupun instalasi baru.
"Kapasitas dapat disesuaikan berdasarkan layanan yang telah berlangganan, dengan dukungan hingga 1.000 Mbps pada tier tertentu. Kami ingin memberikan agility kepada bank untuk mengelola kapasitas connectivity sesuai kebutuhan operasionalnya,” kata Armand.