Salah satu sorotan utama dalam laporan keuangan 2025 adalah efektivitas strategi pemulihan aset. LPEI mencatatkan kenaikan collection and recovery sebesar 68 persen menjadi Rp4,7 triliun. Langkah konservatif juga diambil dengan membentuk coverage ratio sebesar 105 persen.
Efeknya, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) net berhasil ditekan drastis dari 4,5 persen pada tahun sebelumnya menjadi 2,4 persen di akhir 2025.
LPEI juga menunjukkan taringnya di sektor non-finansial melalui program Coaching Program for New Exporter (CPNE). Sepanjang 2025, lembaga ini memfasilitasi 557 eksportir baru yang menembus 90 negara tujuan.
Selain itu, Program Desa Devisa kini telah berkembang luas menjadi 2.328 desa, dengan 566 diantaranya berhasil melakukan perluasan pasar ke mancanegara. Program ini telah memberikan manfaat kepada lebih dari 201 ribu petani, nelayan, dan pengrajin, dimana hampir separuhnya adalah tenaga kerja perempuan.
Di bawah pengawasan ketat pemerintah, LPEI terus memperkuat tata kelola. Pada 2025, lembaga ini meraih sertifikasi ISO 37001:2016 terkait Sistem Manajemen Anti Penyuapan.
Dukungan pemerintah pun semakin kuat melalui peningkatan anggaran Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang melonjak 85 persen menjadi Rp13,5 triliun.