AALI
9750
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
800
ACST
169
ACST-R
0
ADES
7650
ADHI
805
ADMF
8075
ADMG
176
ADRO
2970
AGAR
324
AGII
2100
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
123
AHAP
56
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1585
AKRA
1065
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
298
ALMI
292
ALTO
214
Market Watch
Last updated : 2022/06/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
538.72
-0.98%
-5.31
IHSG
7006.27
-0.52%
-36.66
LQ45
1009.34
-0.95%
-9.65
HSI
22180.30
2.12%
+461.24
N225
26871.27
1.43%
+379.30
NYSE
14811.55
2.84%
+409.43
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,800
Emas
873,287 / gram

Mantap! APBN Catatkan Surplus Rp132,2 Triliun hingga Mei 2022

ECONOMICS
Anggie Ariesta
Kamis, 23 Juni 2022 18:04 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pada periode Mei 2022 mencetak surplus,
Mantap! APBN Catatkan Surplus Rp132,2 Triliun hingga Mei 2022. (Foto: MNC Media)
Mantap! APBN Catatkan Surplus Rp132,2 Triliun hingga Mei 2022. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pada periode Mei 2022 mencetak surplus sebesar Rp132,2 triliun. Angka tersebut setara 0,74% dari produk domestik bruto (PDB).

Adapun surplus terjadi karena pendapatan negara tercatat Rp1.070,4 triliun, sementara belanja negara Rp938,2 triliun. Surplus itu juga berbanding terbalik dengan kondisi periode yang sama 2021 lalu dengan defisit Rp219,2 triliun.

"Lagi-lagi ini pembalikan yang luar biasa dari kondisi fiskal kita," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (23/6/2022).

Keseimbangan primer juga surplus Rp298,9 triliun. Berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang defisit sangat besar.

Belanja negara mencapai Rp938,2 triliun (34,6%), terdiri dari belanja Kementerian Lembaga (KL) Rp319,2 triliun (33,7%), belanja non-KL Rp334,7 triliun (33,5%) dan transfer ke daerah dan dana desa Rp284,3 triliun (36,9%).

Sementara itu, pendapatan negara hingga Mei 2022 mengalami pertumbuhan hingga 47,3%, lebih tinggi dari posisi akhir bulan sebelumnya yang tumbuh 45,9%. Secara nominal, angkanya yang senilai Rp1.070,4 triliun utamanya ditopang oleh penerimaan perpajakan.

Penerimaan pajak mencapai Rp705,82 triliun (55,8%). Terdiri dari PPh non migas mencapai Rp418,7 triliun, PPN dan PPnBM Rp247,82 triliun, PBB dan pajak lainnya Rp3,26 triliun dan PPh Migas Rp36,04 triliun.

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp224,1 triliun (66,8%). Besarnya PNBP ditopang oleh penerimaan dari sektor komoditas. Kepabeanan dan cukai mencapai Rp140,3 triliun (57,3%).

Pembiayaan utang turun drastis, yaitu 72,5% dibandingkan periode yang sama 2021. SBN neto mencapai Rp75,3 triliun atau 7,6% dari total Rp991,3 triliun. Sedangkan pinjaman mencapai Rp15,7 triliun.

Menurut Sri Mulyani, surplus APBN tersebut juga kembali berdampak pada penurunan pembiayaan utang. Hingga Mei 2022, pembiayaan utang baru senilai Rp83,3 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2021 mencapai Rp310,4 triliun.

"Dari situasi Mei yang masih surplus, kita nanti berharap pada akhir tahun defisitnya tidak akan sebesar Rp868 triliun dan bisa diturunkan secara cukup signifikan. Ini menggambarkan kesehatan APBN akan kita pulihkan," papar dia. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD