AALI
8750
ABBA
226
ABDA
6025
ABMM
4470
ACES
650
ACST
193
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
760
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
296
AGII
2400
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
104
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
143
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1700
AKRA
1375
AKSI
328
ALDO
680
ALKA
286
ALMI
396
ALTO
178
Market Watch
Last updated : 2022/09/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.62
-0.34%
-1.81
IHSG
7112.45
-0.21%
-15.05
LQ45
1015.98
-0.41%
-4.21
HSI
17860.31
0.03%
+5.17
N225
26571.87
0.53%
+140.32
NYSE
0.00
-100%
-13797.00
Kurs
HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas
794,741 / gram

Menkop Teten Resah, RI Kebanjiran Barang China yang Bikin UMKM Gulung Tikar

ECONOMICS
Michelle Natalia
Selasa, 31 Agustus 2021 12:41 WIB
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki resah dengan banjirnya produk-produk impor asal China yang mulai menghabisi produk lokal.
Menkop Teten Resah, RI Kebanjiran Barang China yang Bikin UMKM Gulung Tikar (FOTO: MNC Media)
Menkop Teten Resah, RI Kebanjiran Barang China yang Bikin UMKM Gulung Tikar (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki resah dengan banjirnya produk-produk impor asal China yang mulai menghabisi produk lokal. Sebanyak 50% lebih produk yang dijual di platform online/e-commerce berasal dari negara Tirai Bambu tersebut. 

"Banjirnya produk asal China bisa membuat pelaku usaha dalam negeri gulung tikar karena kalah bersaing, seperti halnya di e-commerce, produk lokal kita kalah saing dengan produk luar," ujar Teten dalam Seminar Nasional Informatika dan Aplikasinya - Ke V | SNIA 2021 secara virtual di Jakarta, Selasa (31/8/2021).

Dia pun mengungkapkan bagaimana China berhasil "memenangkan" preferensi konsumen di pasar digital. "China bisa mendominasi karena mereka mendapatkan informasi melalui market intelligence terkait selera pasar Indonesia," tambah Teten.

Bahkan, bukan hanya Indonesia, informasi terkait selera pasar ini juga diberikan untuk negara-negara lain. Setelah diteliti, ditemukan bahwa UMKM di China mendapatkan panduan data market di Indonesia. 

"Jadi e-commerce cross border mereka melakukan market intelligence untuk menangkap selera konsumen di setiap negara," ucap Teten.

Adanya informasi mengenai selera pasar domestik tersebut mendorong para pelaku usaha bisa yakin dan percaya diri untuk memproduksi barang dengan jumlah banyak. Harganya pun lebih murah, sehingga produk-produk dari China dipastikan laku karena informasi yang sangat akurat tentang selera pembeli. 

"Dengan market intelligence ini infonya diberikan pelaku usaha UMKM yang sesuai permintaan market. Yang gitu pasti bisa laku, karena itu pengiriman barangnya itu bisa sekaligus, borongan sehingga murah biaya logistiknya," katanya.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi oleh pelaku usaha di Indonesia. Mereka seringkali terhambat biaya logistik yang tinggi karena mengirimkan barang dalam jumlah kecil.

"Nah problem kita itu, UMKM kita misal mengirimkan barang ke luar ritel ekspor itu selalu besar di ongkos. Itu satuan unit kecil sementara dari luar, China mereka datang kontainer sangat banyak biaya logistik jadi murah," pungkas Teten. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD