"Kami melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi S&P yang meningkat hingga di atas 6 persen dalam beberapa tahun ke depan masih cukup optimistis. Kenaikan suku bunga yang agresif, pelemahan rupiah, inflasi yang lebih tinggi, serta mulai melambatnya permintaan domestik berpotensi membatasi laju pertumbuhan ekonomi," kata Rully.
Ia menambahkan, ruang pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal diperkirakan tetap terbatas karena komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap PDB.
Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset tetap mengedepankan strategi investasi defensif dengan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, likuiditas sehat, serta mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar.
"Kami masih melihat BBCA, EXCL, dan JPFA sebagai pilihan utama karena memiliki fundamental yang relatif kuat untuk menghadapi ketidakpastian pasar," ujar Rully.
Sementara itu, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan tekanan terhadap pasar keuangan global masih dipengaruhi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.