sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mirae Asset Sebut Rating BBB S&P Positif, Tapi Risiko Ekonomi RI Masih Membayangi

Economics editor Shifa Nurhaliza Putri
15/07/2026 11:50 WIB
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
Mirae Asset Sebut Rating BBB S&P Positif, Tapi Risiko Ekonomi RI Masih Membayangi. (Foto: Ilustrasi)
Mirae Asset Sebut Rating BBB S&P Positif, Tapi Risiko Ekonomi RI Masih Membayangi. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan. Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai berbagai tantangan makroekonomi yang diperkirakan membayangi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II-2026.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan keputusan S&P mencerminkan fundamental fiskal Indonesia yang masih terjaga. Hal tersebut ditopang oleh komitmen pemerintah mempertahankan batas defisit APBN di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Penegasan peringkat investment grade oleh S&P memberikan keyakinan bahwa kondisi fundamental Indonesia masih cukup kuat. Namun, investor juga perlu melihat bahwa tantangan ke depan tidak hanya berasal dari kondisi fiskal, tetapi juga dari tekanan eksternal dan perlambatan permintaan domestik," ujar Rully dalam keterangannya Rabu (15/7/2026).

Menurut dia, berbeda dengan S&P yang mempertahankan outlook stabil, Fitch Ratings dan Moody's masih memberikan outlook negatif terhadap Indonesia karena menilai ketidakpastian kebijakan serta risiko terhadap fiskal dan sektor eksternal masih tinggi.

Meski demikian, Mirae Asset menilai risiko utama saat ini bukanlah penurunan peringkat kredit, melainkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang masih berlangsung.

"Kami melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi S&P yang meningkat hingga di atas 6 persen dalam beberapa tahun ke depan masih cukup optimistis. Kenaikan suku bunga yang agresif, pelemahan rupiah, inflasi yang lebih tinggi, serta mulai melambatnya permintaan domestik berpotensi membatasi laju pertumbuhan ekonomi," kata Rully.

Ia menambahkan, ruang pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal diperkirakan tetap terbatas karena komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap PDB.

Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset tetap mengedepankan strategi investasi defensif dengan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, likuiditas sehat, serta mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar.

"Kami masih melihat BBCA, EXCL, dan JPFA sebagai pilihan utama karena memiliki fundamental yang relatif kuat untuk menghadapi ketidakpastian pasar," ujar Rully.

Sementara itu, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan tekanan terhadap pasar keuangan global masih dipengaruhi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Jessica, kenaikan harga minyak Brent hingga sekitar USD83 per barel berpotensi meningkatkan biaya impor energi Indonesia, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta mempertahankan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko inflasi global sehingga memperkuat ekspektasi suku bunga higher for longer. Kondisi tersebut berpotensi menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan," kata Jessica.

Meski demikian, Jessica menilai penegasan kembali status investment grade Indonesia oleh S&P tetap menjadi katalis positif yang dapat mendukung minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN), khususnya pada tenor pendek hingga menengah, selama kondisi geopolitik tidak kembali memburuk secara signifikan.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement