Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), anomali iklim El Nino yang menurunkan intensitas curah hujan berisiko menekan hasil panen dan memangkas produksi gabah kering giling (GKG) di berbagai wilayah sentra padi.
Gangguan cuaca ekstrem ini patut diwaspadai karena berpotensi memicu inflasi harga beras di tingkat konsumen, sebagaimana catatan historis BPS saat inflasi beras sempat melesat hingga 5,61 persen pada puncak kekeringan September 2023 lalu.
Penyaluran beras tambahan tersebut melengkapi alokasi bantuan pangan yang menyasar lebih dari 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) pada kelompok desil 1 hingga desil 4.
Intervensi cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di pasar sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
"Kesiapan menghadapi dampak iklim ini menjadi prioritas pemerintah agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi di tengah potensi gangguan musim," kata Airlangga.
(Nur Ichsan Yuniarto)