sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Nilai Dagang Indonesia-EAEU Ditargetkan Tembus Rp171 Triliun dalam Dua Tahun

Economics editor Tangguh Yudha
10/04/2026 13:00 WIB
Kadin Indonesia menargetkan peningkatan signifikan dalam hubungan dagang antara Indonesia dan negara-negara EAEU hingga dua kali lipat dalam tiga tahun.
Nilai Dagang Indonesia-EAEU Ditargetkan Tembus Rp171 Triliun dalam Dua Tahun. (Foto: Tangguh Yudha/iNews Media Group)
Nilai Dagang Indonesia-EAEU Ditargetkan Tembus Rp171 Triliun dalam Dua Tahun. (Foto: Tangguh Yudha/iNews Media Group)

IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan peningkatan signifikan dalam hubungan dagang antara Indonesia dan negara-negara Eurasian Economic Union (EAEU) dengan proyeksi nilai perdagangan meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun ke depan.

Optimisme tersebut mengemuka dalam gelaran Russia-Indonesia Workshop on EAEU-Indonesia Free Trade Agreement in Practice yang diselenggarakan di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (10/4/2026) yang dihadiri oleh delegasi dari Rusia serta negara anggota EAEU lainnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia, Pahala Mansury, menjelaskan bahwa Indonesia telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) dengan negara-negara EAEU pada akhir 2025, sehingga diharapkan perdagangan antara Indonesia dan negara-negara EAEU yang mencakup Rusia, Kyrgyzstan, Belarus, Kazakhstan, dan Armenia bisa segera meningkat.

"Diharapkan bahwa dengan adanya FTA tersebut perdagangan antara Indonesia dengan anggota-anggota daripada EAEU itu tadi bisa meningkat sampai dengan 2 kali lipat dalam waktu 3 tahun karena total perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara tersebut pada saat ini kurang lebih adalah USD5 miliar," ujarnya.

Itu berarti dalam 3 tahun ke depan, nilai perdagangan Indonesia dan EAEU bisa mencapai USD10 miliar atau sekitar Rp171,09 triliun (kurs Rp17.109 per dolar AS).

Pahala menilai, pengurangan tarif serta hambatan non-tarif akan menjadi kunci dalam mendorong peningkatan tersebut. Menurutnya, terdapat tiga sektor utama yang diproyeksikan menjadi motor penggerak peningkatan perdagangan.

Pertama adalah sektor komoditas pangan, seperti minyak sawit mentah (CPO), gandum, serta pupuk, khususnya potash. Kedua, sektor energi termasuk hilirisasi mineral seperti nikel juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam kerja sama ini.

Adapun sektor ketiga yaitu industri padat karya, meliputi tekstil, garmen, serta industri manufaktur seperti mesin, peralatan, dan elektronik yang saat ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor Indonesia.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement