Berdasarkan keterangan bankir yang enggan disebutkan namanya, langkah Singapura memperketat aturan pencucian uang membuat beberapa bank mulai mengatur ulang aturan know-your-costumer (KYC). Orang-orang kaya China di Singapura pun ikut menjadi sasaran.
Pada April 2024, bank sentral Singapura meluncurkan sebuah platform digital yang memungkinkan pertukaran data para pelanggan dalam rangka memerangi praktik pencucian uang. Sejak saat itu, orang-orang kaya China mulai khawatir dan meminta agar aset mereka dipindahkan.
"Bagi banyak miliarder China Daratan, karena mereka tidak menyukai intervensi dari pemerintah atau pemerintah memeriksa kekayaan pribadi mereka, maka atas dasar itulah mereka ingin memindahkan aset mereka keluar dari China," kata Profesor Keuangan di University of Hong Kong, Zhiwu Chen.
"Jika Singapura makan melakukan pemeriksaan yang banyak dan ketat seperti (pemerintah) China Daratan, lalu kenapa mereka kemudian harus ke sana (Singapura)?," katanya.
Chen mengaku tahu beberapa miliarder yang sudah bersiap untuk memindahkan family office mereka ke Hong Kong dari Singapura. Saat ini, bisnis private bank di Hong Kong tengah tumbuh dan kondisi sebaliknya terjadi di Singapura yang melambat. Hal ini mengindikasikan semakin sedikit dana asing yang masuk ke Singapura.
(RFI)