sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pangkas RKAB Tambang, Bahlil: Jangan Produksi Masif Kalau Harga Belum Wajar

Economics editor Nia Deviyana
13/02/2026 18:15 WIB
Langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara pasokan dan kebutuhan pasar agar menjaga kestabilan harga komoditas.
Pangkas RKAB Tambang, Bahlil: Jangan Produksi Masif Kalau Harga Belum Wajar. Foto: iNews Media Group.
Pangkas RKAB Tambang, Bahlil: Jangan Produksi Masif Kalau Harga Belum Wajar. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah melakukan pembenahan menyeluruh terhadap proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba) di 2026.

Langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara pasokan dan kebutuhan pasar agar menjaga kestabilan harga komoditas.

"Kenapa RKAB kita potong? karena kita menyesuaikan antara supply dengan demand. Upaya penyelarasan antara suplai dan permintaan ini juga dinilai penting, tidak hanya untuk menjaga stabilitas harga komoditas batu bara, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan cadangan energi bagi generasi mendatang," kata Bahlil di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Langkah penyesuaian RKAB 2026 dimaksudkan untuk mencegah kelebihan pasokan (oversupply) akibat eksploitasi dan produksi yang berlebihan. Menurut Bahlil, jika komoditas belum laku pada harga yang wajar, produksi masif sebaiknya ditunda demi ketersediaan sumber daya untuk generasi mendatang.

"Kalau memang belum laku dengan harga baik, jangan dulu kita produksi secara masif, kasihan anak cucu kita ini. Suatu saat kita meninggal, mereka ini yang melanjutkan perjuangan negara ini. Jangan di saat mereka memimpin barang sudah habis karena kelakuan kita, udah gitu jual murah lagi," ujarnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Tri Winarno menyoroti dampak positif dari kebijakan ini terhadap dinamika pasar. Menurut Tri, pengumuman pada 23 Desember 2025 tentang pemangkasan produksi menyebabkan respons pasar yang cepat dan kenaikan harga nikel.

"Pada tanggal 23 Desember 2025, saat Pak Menteri (Bahlil) mengumumkan akan melakukan pemangkasan terhadap produksi. Maka harga nikel langsung naik. Harga itu sampai sekarang dari Rp14.800 (saat oversupply), peak-nya pernah Rp18.800, tapi sekarang mungkin bisa dicek sekitar Rp17.000 something," ujar Tri.

Reaksi pasar tersebut memperlihatkan bahwa langkah penyesuaian produksi oleh Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia, memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar global. 

"Bagi pemerintah, kebijakan RKAB yang lebih selektif diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan cadangan energi untuk masa depan," kata dia.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement