AALI
10850
ABBA
73
ABDA
6950
ABMM
745
ACES
1565
ACST
358
ACST-R
0
ADES
1680
ADHI
1320
ADMF
8450
ADMG
174
ADRO
1180
AGAR
418
AGII
1270
AGRO
1215
AGRO-R
0
AGRS
805
AHAP
61
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
302
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
492
AKRA
3400
AKSI
765
ALDO
440
ALKA
238
ALMI
250
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/03/05 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.51
-0.71%
-3.59
IHSG
6258.75
-0.51%
-32.05
LQ45
941.36
-0.75%
-7.11
HSI
29098.29
-0.47%
-138.50
N225
28864.32
-0.23%
-65.79
NYSE
14959.41
-1.58%
-239.78
Kurs
HKD/IDR 1,843
USD/IDR 14,300
Emas
778,890 / gram

Pembiayaan Utang Negara Naik 135 Persen Jadi Rp165,8 Triliun

ECONOMICS
Rina Anggraeni/Sindonews
Selasa, 23 Februari 2021 18:15 WIB
Pembiayaan utang negara yang diambil dari Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan yang sangat pesat di bulan Januari 2021.
Pembiayaan Utang Negara Naik 135 Persen Jadi Rp165,8 Triliun. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pembiayaan utang negara yang diambil dari Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan yang sangat pesat di bulan Januari 2021. Angka ini mencapai 135 persen dibandingkan periode yang sama tahun sbeelumnya, menjadi Rp165,8 triliun.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, pembiayaan utang naik dua kali dibandingkan tahun lalu sebesar Rp68,2 triliun. Hal ini terjadi karena defisit Januari belum direvisi oleh pemerintah.

"Sampai 31 Januari 2021, pembiayaan utang Rp165,8 triliun, karena defisit Januari ini naik tajam dibandingkan Januari 2020 itu belum direvisi, makanya kalau dilihat issuance SBN masih rendah," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Selasa (23/2/2021).

Kata dia, pembiayaan utang selama bulan lalu terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp169,7 triliun atau naik 135 persen dibandingkan Januari 2020. Penerbitan SBN ini sudah 14,1 persen dari target dalam APBN 2021 sebesar Rp1.207,3 triliun.

"Untuk pembiayaan investasi kita juga akan melakukannya secara hati-hati. Pencairan dari PMN akan dilakukan sekarang secara sangat terukur dan prudent dengan koordinasi dari Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan kementerian teknis," bebernya.

Dia menambahkan, pinjaman minus Rp3,9 triliun sampai 31 Januari 2021. Sementara untuk pembiayaan investasi, pemberian pinjaman, dan pembiayaan lainnya masih belum terealisasi sampai dengan akhir bulan kemarin.

"Pembiayaan anggaran kita akan terus disesuaikan, dikaitkan dengan adanya SILPA yang bisa kita manfaatkan, dan kita akan memanfaatkan pembiayaan lunak termasuk pembiayaan yang berasal dari Bank Indonesia sesuai dengan agreement SKB kita," jelasnya. (TYO)

Rekomendasi Berita
Risiko Investasi Saham
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD