AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

Pemkab Kendal Kaji Kembali 26 Sumur Minyak Peninggalan Belanda

ECONOMICS
Eddie Prayitno/Kontri
Rabu, 22 September 2021 09:22 WIB
Pemkab Kendal akan mengkaji kembali keberadaan 26 sumur minyak peninggalan zaman kolonial Belanda.
Pemkab Kendal akan mengkaji kembali keberadaan 26 sumur minyak peninggalan zaman kolonial Belanda. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Keberadaan 26 sumur minyak peninggalan Zaman kolonial Belanda di Sojomerto Kabupaten Kendal  akan dikaji kembali oleh Pemkab Kendal. Bupati Kendal Dico M Ganinduto yang baru mengetahui di wilayahnya  memiliki puluhan sumur minyak akan berkomunikasi dengan pemerintah pusat.

Sebelumnya, sumur minyak tua peninggalan Belanda sekilas sudah tidak bisa berfungsi, bahkan terlihat dibiarkan begitu saja.  Sempat akan dikelola oleh Pertamina, namun belum ada kejelasannya sampai sekarang dibiarkan mangkrak. 

“Jika masih bisa diberdayakan, nantinya pemerintah akan segera komunikasikan dengan kementerian terkait,” kata Dico, Selasa (21/9/2021). 

“Nantinya komunikasi dengan kementerian terkait akan dibangun dengan melibatkan pihak perhutani selaku pemilik lahan dari 26 sumur minyak tersebut,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Koperasi Kendal, Kun Tjahyadi mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Perhutani  sebagai pemilik lahan terkait rencana yang akan dilakukan Bupati. 

"Keberadaan koperasi pada saat penambangan minyak dilakukan masyarakat hanya bersifat sebagai pengepul hasil minyak dari warga yang melakukan penambangan,” kata Kun Tjahyadi. 

“Nantinya setelah minyak yang dikumpulkan warga terkumpul, koperasi lalu menjualnya. Penjualan dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak ketiga,” katanya.

Menurutnya, sumur minyak saat ini kondisinya masih berfungsi dalam artian masih bisa menghasilkan minyak. “Biasanya pengeboran sumur minyak dilakukan masyarakat secara tradisional  sejak zaman Belanda dengan alat sederhana,” ujarnya. (TIA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD