IDXChannel—Produsen mobil premium asal Jerman, BMW, mencatatkan penurunan pendapatan sebelum pajak sebesar 25 persen menjadi EUR2,3 miliar, setara Rp46,98 triliun. Namun, realisasi ini masih sejalan dengan outlook BMW sepanjang 2026.
Selain itu, pendapatan grup meleset dari perkiraan, turun 8,1 persen menjadi EUR31 miliar.
Melansir Reuters (6/5/2026), penurunan yang tajam ini disebabkan oleh kompetisi yang kian ketat usai merek China masuk ke pasaran, ditambah lagi, produsen kini harus menanggung tekanan tarif tinggi dari Amerika Serikat.
Kompetitor BMW, Mercedes-Benz dan Audi, juga melaporkan tantangan finansial pada kuartal pertama 2026. Dampak tarif AS dan ketatnya kompetisi usai produsen China masuk ke pasar Eropa dengan EV berharga murah, juga dirasakan oleh dua brand ini.
BMW telah menerapkan pemangkasan biaya untuk meminimalisir dampak tekanan dari pemberlakuan tarif AS dan tingginya harga bahan baku secara global. Namun, upaya ini tak berdampak signifikan pada kinerja keuangan perusahaan.