sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Inflasi Terjaga hingga Manufaktur Ekspansif, Airlangga Optimistis Ekonomi RI Tetap Solid

Economics editor Rohman Wibowo
04/08/2026 08:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa kinerja perekonomian nasional terus menunjukkan daya tahan yang kuat.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan kinerja perekonomian  terus menunjukkan daya tahan yang kuat. (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan kinerja perekonomian terus menunjukkan daya tahan yang kuat. (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan bahwa kinerja perekonomian nasional terus menunjukkan daya tahan yang kuat. Hal tersebut tecermin dari tiga indikator makroekonomi utama terbaru rilis Badan Pusat Statistik (BPS), meliputi laju inflasi Juli 2026 yang terkendali, kembalinya PMI Manufaktur Juli 2026 ke zona ekspansi, serta membaiknya performa neraca perdagangan periode Juni 2026.

Airlangga menyampaikan, pemerintah berkomitmen penuh untuk memelihara keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Penjagaan pada aspek ketahanan pangan, ketahanan energi, dan laju inflasi diposisikan sebagai pilar utama demi menjaga daya beli masyarakat, menguatkan daya saing ekonomi nasional, serta menumbuhkan kepercayaan dunia usaha.

"Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh secara berkelanjutan dengan terjaganya inflasi, ekspansi sektor manufaktur, dan membaiknya neraca perdagangan," ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Senin (3/8/2026).

Tercatat, realisasi inflasi Indonesia pada Juli 2026 berada di level 2,88 persen (yoy), makin solid di dalam kisaran target 2,5±1 persen sekaligus membaik dibanding posisi Juni 2026 yang sebesar 3,34 persen (yoy). Meredanya tekanan harga tersebut terutama didorong penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis, seperti bawang merah, tomat, telur ayam ras, serta cabai rawit seiring berjalannya masabpanen di berbagai sentra produksi.

Selain itu, inflasi inti bertahan di level 2,76 persen (yoy) yang mencerminkan terjangkunya ekspektasi inflasi publik. Adapun inflasi Administered Prices (AP) berada pada angka 3,58 persen (yoy), dipengaruhi faktor base effect penyesuaian harga BBM nonsubsidi Juni 2026 serta dinamika kenaikan tarif angkutan udara.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement