Menurut Alphonzus, kenaikan biaya produksi akan berdampak pada hampir seluruh kategori produk. Kenaikan biaya logistik dan energi memengaruhi baik produk impor maupun produk yang diproduksi di dalam negeri.
"Kalau barang impor tentu lebih terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Tetapi produk dalam negeri juga akan mengalami tekanan karena biaya energi, logistik, dan bahan bakunya meningkat. Jadi hampir semua kategori produk berpotensi mengalami kenaikan harga," ujarnya.
Meski demikian, Alphonzus menegaskan kenaikan harga merupakan pilihan terakhir bagi pelaku usaha ritel. APPBI berharap pemerintah mampu mengendalikan berbagai faktor yang mendorong kenaikan biaya produksi sebelum memasuki kuartal IV sehingga kenaikan harga barang dapat ditekan.
"Kami berharap pemerintah bisa segera mengatasi situasi ini sehingga kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, maupun biaya energi tidak berlanjut. Kalaupun nanti harga barang harus naik, kami berharap kenaikannya tidak signifikan," katanya.
Jika kenaikan biaya tidak dapat dihindari, lanjut Alphonzus, para peritel akan menerapkan berbagai strategi agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Langkah yang disiapkan antara lain menggunakan bahan baku alternatif yang lebih murah, menghadirkan produk dengan ukuran kemasan yang lebih kecil, hingga memperbanyak program promosi.