AALI
8250
ABBA
580
ABDA
0
ABMM
1285
ACES
1325
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2470
ADHI
700
ADMF
7600
ADMG
232
ADRO
1325
AGAR
386
AGII
1805
AGRO
2660
AGRO-R
0
AGRS
234
AHAP
58
AIMS
424
AIMS-W
0
AISA
214
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
645
AKRA
3590
AKSI
410
ALDO
655
ALKA
224
ALMI
238
ALTO
336
Market Watch
Last updated : 2021/07/29 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
443.87
0.07%
+0.33
IHSG
6120.73
0.53%
+32.20
LQ45
832.75
0.25%
+2.05
HSI
26315.32
3.3%
+841.44
N225
27782.42
0.73%
+200.76
NYSE
16573.56
0.32%
+52.60
Kurs
HKD/IDR 1,860
USD/IDR 14,480
Emas
846,128 / gram

Pengusaha Siapkan Skenario Terburuk Jika Pelonggaran 26 Juli Tidak Berlangsung

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Kamis, 22 Juli 2021 12:09 WIB
APINDO sudah menyiapkan skenario terburuk terkait perpanjangan PPKM yakni dengan menutup tempat usaha untuk menutup kerugian.
Pebisnis yang bangkrut akan menutup usahanya (Ilustrasi)

IDXChannel - Pemerintah telah resmi menetapkan PPKM Level 4 berlaku mulai 21-25 Juli 2021. Adapun Presiden Joko Widodo mengatakan akan ada rencana pelonggaran pada tanggal 26 Juli dengan melihat indikasi yang ada.

Terkait rencana yang belum pasti itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani menerangkan bahwa para pengusaha sudah menyiapkan skenario terburuk.

“Andaikata kondisinya tidak membaik, apa langkah yang tepat yang akhirnya dilakukan oleh pelaku usaha? Yaitu menutup usahanya untuk mengurangi kerugian. Itu yang akan terjadi,” ujarnya secara virtual di Jakarta, Kamis (22/7/2021).

Ia menuturkan langkah tersebut adalah keputusan yang harus dilakukan walaupun costnya akan menjadi mahal. Untuk korporasi sendiri pun, ia menyebut masih sangat minim untuk mendapat dukungan.

Sementara itu, Hariyadi mengungkapkan penanganan pandemi harus ekstra didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebab kunci dari penyelesaian pandemi adalah kesehatan pada masyarakat. Pasalnya, jika tingkat kesehatan masyarakat belum menunjukkan hasil yang signifikan maka pemerintah tidak akan diam untuk bergerak mengatasi masalah kesehatan.

“Maka dari itu jangan sampai pengorbanan ekonomi kita ini tidak diikuti oleh langkah-langkah dari penanganan pandemi itu. Temen-temen pengusaha udah pada kolaps tapi nggak ada perubahan yang signifikan di penanganan pandemi itu,” kata dia.

Dia menilai dari sisi pemerintah, sayangnya dana yang sedemikian besar keluar untuk Bansos tidak mengeluarkan Indonesia keluar dari masalah. Menurutnya Bansos sifatnya hanyalah sementara.

Terkait hal itu, ia menekankan supaya pemerintah bisa lebih memfokuskan pada target 3T (Testing, Tracing, dan Treatment) serta vaksinasi kepada masyarakat yang tinggal di perumahan padat penduduk. Sebab titik persoalan terbesar adalah kesehatan. Sehingga penanganan dari sisi kesehatan harus dioptimalkan dengan seksama supaya pandemi bisa cepat berakhir.

“Temen-temen yang isoman di rumah rata-rata bisa terkendali. Yang problem adalah yang di daerah padat penduduk. Bagaimana mereka mau isoman kalau satu rumah isinya 10 orang dengan rumah yang kecil. Sehingga target 3T dan vaknisnasinya mungkin bisa diarahkan kepada mereka yang paling beresiko ini,” tandasnya.(NDA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD