sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Penuhi Pangan Korban Gempa, Bulog Tempatkan Cadangan Beras 10 Ton di Bandara dan Pelabuhan NTT

Economics editor Nur Ichsan Yuniarto
18/08/2026 10:08 WIB
Strategi tersebut dilakukan karena pengalaman Bulog saat menangani berbagai bencana sebelumnya seperti di wilayah banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera.
Penuhi Pangan Korban Gempa, Bulog Tempatkan Cadangan Beras 10 Ton di Bandara dan Pelabuhan NTT
Penuhi Pangan Korban Gempa, Bulog Tempatkan Cadangan Beras 10 Ton di Bandara dan Pelabuhan NTT

IDXChannel - Bulog menempatkan cadangan beras masing-masing 10 ton di bandara dan pelabuhan sebagai langkah antisipasi agar distribusi dapat dilakukan segera ketika kebutuhan mendesak muncul sewaktu-waktu.

"Penempatan logistik di simpul transportasi dilakukan guna mempercepat proses pengiriman karena bantuan tidak lagi harus menunggu pengambilan dari gudang penyimpanan ketika kondisi darurat," kata Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, Selasa (18/8/2026).

Dia menambahkan, strategi tersebut dilakukan karena pengalaman Bulog saat menangani berbagai bencana sebelumnya seperti di wilayah banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera, sehingga pola distribusi logistik kini semakin fleksibel menyesuaikan kondisi lapangan yang terus berubah setiap waktu.

"Ini pengalaman, kami kemarin di Aceh, di Sumatera Utara, dan Sumatera Barat itu lebih fleksibel kalau berasnya ditempatkan di bandara dan di pelabuhan sehingga begitu ada pergerakan, informasi cepat bisa didorong, tidak menunggu lagi harus mengambil di gudang," katanya.

"Jadi sekarang Pimpinan Wilayah Bulog di NTT sudah mendorong berasnya setiap hari 10 ton standby di bandara dan di pelabuhan khususnya yang ada di Kupang," lanjutnya.

Bulog memastikan kesiapan logistik di titik strategis akan mempercepat pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat sekaligus mendukung kelancaran penyelenggaraan dapur umum selama masa tanggap darurat.

Selain itu, lanjut Rizal, koordinasi dengan BNPB dilakukan secara intensif agar armada udara maupun laut dapat segera dimanfaatkan ketika akses darat menuju lokasi pengungsian mengalami hambatan akibat kerusakan infrastruktur.

"Seluruh langkah tersebut diarahkan agar bantuan dapat menjangkau daerah terpencil sekalipun sehingga masyarakat terdampak memperoleh kebutuhan pokok tanpa harus menunggu proses distribusi yang panjang, kata Rizal.

(Nur Ichsan Yuniarto)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement