“KAI mendukung kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan. Pada saat yang sama, kami memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel berjalan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan kepada pelanggan serta sektor logistik tetap aman dan andal,” ujarnya.
Anne memaparkan bahwa sinergi antara KAI dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menguji coba penerapan B50 di sektor kereta api telah dimulai sejak April 2026. Pengujian komprehensif ini dilakukan pada unit lokomotif dan genset kereta api guna mengevaluasi aspek performa mesin, tingkat konsumsi bahan bakar, volume emisi yang dihasilkan, serta daya tahan sarana dalam berbagai skenario operasional riil.
Untuk pengujian lokomotif, pihak KAI menggunakan unit lokomotif tipe CC206 yang dipasangkan pada rangkaian KA Sembrani. Simulasi uji coba tersebut bertolak dari Depo Sidotopo dengan melakukan studi komparasi konsumsi bahan bakar antara varian B40 dan B50.
Dengan demikian, memasuki Juni 2026, KAI kini berada di fase pemantauan serta evaluasi teknis mendalam terhadap data hasil pengujian sebelum skema B50 ini diimplementasikan dalam skala yang lebih luas.
Dari aspek pelestarian lingkungan, penerapan bahan bakar B50 ini dikategorikan ke dalam program kerja strategis dekarbonisasi KAI untuk periode tahun 2025–2030. Lewat peta jalan tersebut, migrasi bahan bakar dari B35 menuju B50 ditargetkan sanggup memangkas emisi karbon hingga mencapai 133.676 ton CO₂e.