"Bagi bisnis, ini bukan hanya pergeseran kebijakan. Ini adalah titik balik strategis. Pemodelan kami menunjukkan bahwa bahkan di tengah meningkatnya fragmentasi, perdagangan tetap berada pada lintasan pertumbuhan yang jelas, dan keuntungan akan diraih oleh mereka yang bergerak lebih awal untuk beradaptasi dan memimpin dalam lanskap yang terus berkembang ini," katanya.
Dalam skenario perdagangan multi-simpul ini, pangsa perdagangan barang global Amerika Serikat (AS) diproyeksikan menurun karena AS mempertahankan fokus America First yang mengutamakan produksi dalam negeri daripada impor.
Penurunan yang diproyeksikan ini disebabkan oleh tarif yang lebih tinggi dan hambatan lainnya. Pangsa impor AS yang dikenakan tarif telah meningkat dari 13 persen menjadi 61 persen sejak Januari 2025. (Wahyu Dwi Anggoro)