Dalam kesempatan sama, CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda menitberatkan pihaknya mulai mengalihkan produksi ke kendaraan berbasis bioetanol. Bukan cuma untuk keperluan industri sektoral, tapi industri otomotif secara keseluruhan.
"Posisi Toyota sejalan dengan sikap pemerintah Jepang, yang menyajikan kendaraan atau mobil penumpang, dan dalam beberapa waktu untuk kendaraan atau mobil komersial, tergantung kondisinya. Namun pada akhirnya, bersama pemerintah, kami dapat menyediakan tipe mobil apa pun yang sudah kami miliki," kata Maeda.
Meski demikian, pemerintah belum bisa memastikan berapa total investasi dari kerja sama ini. Namun, pemerintah sebisa mungkin bakal memberikan insentif berupa pajak kepada pihak Toyota. Sebab, korporasi asal Jepang bakal menjadi yang pertama membuka keran industri etanol dan mempercepat akselerasi pemerintah menjajakan energi ramah lingkungan ke pasaran.
"Insentif yang pasti, pertama untuk semua investment yang ada di Indonesia, kami memang kasih insentif dalam bentuk master list dan tax holiday," kata Todotua.
"Teknologinya Toyota ini sebenarnya mereka pun kalau 100 persen mengkonsumsi etanol sudah bisa. Dengan kondisional market price yang buka, di luar BBM yang subsidi, ini nanti market atau masyarakat akan diberikan pilihan menggunakan E10 atau E20," sambungnya.
(Febrina Ratna Iskana)