"Berperan sebagai baseload energi bersih, panas bumi menjadi sumber energi strategis untuk meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi nasional. Hal ini merupakan salah satu bagian dari strategi pertumbuhan ganda Pertamina” kata Baron.
Keandalan operasi PLTP Kamojang juga memperkuat agenda transisi energi nasional, memangkas emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO₂ per tahun, sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Selain berkontribusi pada penyediaan energi bersih, perjalanan panjang panas bumi di Kamojang juga menciptakan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar. Pjs. General Manager PGE Area Kamojang Manda Wijaya Kusuma mengatakan pengembangan panas bumi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Capaian ini menjadi semangat bagi PGE untuk terus mengelola aset panas bumi secara optimal. Keandalan tersebut tidak terlepas dari pengelolaan aspek operasi, keselamatan, keandalan aset, serta integritas dalam menjalankan seluruh proses bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa panas bumi dapat terus menjadi sumber energi bersih yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan Indonesia,” tutur Manda.
Setelah satu abad menjadi bagian dari perjalanan energi Indonesia, Kamojang terus bertransformasi untuk menjaga keberlanjutan manfaat panas bumi bagi generasi mendatang. Sebagai fasilitas panas bumi tertua yang telah beroperasi komersial sejak 1983, PGE Kamojang terus melakukan inovasi untuk menjaga keandalan aset sekaligus mengoptimalkan potensi panas bumi yang tersedia.