Salah satu langkah yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan uap dari sumur-sumur bertekanan rendah (low-pressure steam) yang ditargetkan menghasilkan tambahan kapasitas sebesar 5 MW pada 2028 tanpa perlu pembukaan lahan maupun pengeboran sumur baru. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya PGE dalam meningkatkan pemanfaatan aset secara efisien dan berkelanjutan.
Optimalisasi aset di Kamojang juga menjadi bagian dari strategi PGE dalam memperkuat pengembangan panas bumi di berbagai wilayah operasi. Melalui sejumlah proyek quick win dan ekspansi kapasitas, PGE menargetkan peningkatan kapasitas terpasang hingga mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028, 1,8 GW pada 2033, serta visi jangka panjang sebesar 3 GW.
Di sisi lain, pengembangan panas bumi di Kamojang tidak hanya berkontribusi pada penyediaan energi bersih, tetapi juga menghadirkan manfaat di luar sektor kelistrikan. Salah satu bentuk nyata terlihat melalui sektor pertanian, khususnya pengembangan kopi lokal. Melalui pemanfaatan langsung (direct use) panas bumi, PGE Kamojang menghadirkan inovasi Geothermal Dry House yang membantu mempercepat proses pengeringan kopi.
“Dari Kamojang, panas bumi terus menghadirkan manfaat bagi ketahanan energi, percepatan transisi energi, pertumbuhan ekonomi lokal, dan keberlanjutan Indonesia,” ujarnya.
(NIA DEVIYANA)