Lebih lanjut, Iriawan menekankan berbagai terobosan yang dieksekusi Zona 4, mulai dari percepatan pengeboran sumur baru, pengembangan lapangan, hingga penguatan keandalan fasilitas produksi. Langkah-langkah tersebut dipandang sebagai fondasi krusial guna menjamin kesinambungan produksi migas nasional di tengah lonjakan kebutuhan energi masyarakat.
Beroperasi di wilayah Sumatera Selatan dengan cakupan area kerja seluas 28.282 kilometer persegi, Zona 4 mengelola tujuh lapangan migas, 98 fasilitas produksi, serta lebih dari 1.000 sumur produksi.
Hingga Juli 2026, wilayah kerja ini berhasil membukukan angka produksi sekitar 27.000 barel minyak per hari (BOPD) dan gas sebesar 506 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), menjadikannya salah satu pilar penopang pasokan energi nasional.
Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan, sektor hulu memegang peranan kunci dalam mewujudkan target swasembada energi nasional.
Atas dasar itu, Pertamina secara berkelanjutan memaksimalkan potensi aset-aset produksinya lewat adopsi teknologi modern, penguatan keandalan operasional, serta efisiensi biaya agar mampu mencetak produksi migas yang berkelanjutan.
"Setiap peningkatan produksi dari lapangan migas merupakan kontribusi nyata Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui pengelolaan aset yang semakin andal, efisien, dan berkelanjutan, Pertamina terus mendukung pencapaian target produksi migas nasional sekaligus memastikan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi," katanya.
(Dhera Arizona)