Dia mengatakan, pertumbuhan industri kopi seharusnya mampu meningkatkan nilai tambah bagi para pelaku di daerah asal, terutama petani.
“Kalau pertumbuhan hanya berarti menjual lebih banyak kopi, tetapi petani tetap menghadapi risiko yang sama, kapasitas di daerah asal tidak berkembang, dan proses dipercepat dengan mengurangi standar, maka pertumbuhan tersebut belum tentu memperkuat ekosistem,” katanya.
Dia melihat pengembangan specialty coffee menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi Indonesia. Menurutnya, nilai specialty coffee tidak hanya ditentukan oleh grade atau metode penyeduhan, tetapi juga oleh pengetahuan dan budaya yang melekat pada proses produksinya.
“Specialty coffee bagi saya sangat luas. Bukan hanya mengenai grade, tetapi juga mengenai manusia dan budaya, bagaimana mereka memperlakukan kopi berdasarkan filosofi serta pengetahuan yang mereka miliki,” katanya.