IDXChannel - Industri kopi Indonesia dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar seiring pertumbuhan industri dan nilai ekspor yang terus meningkat. Pada 2025, nilai ekspor kopi Indonesia bahkan mencetak rekor sekitar USD2,513 miliar dengan volume ekspor 511.182 ton.
CEO Roemah Koffie Felix TJ mengatakan, pertumbuhan industri kopi Indonesia terlihat dari semakin banyaknya pelaku dan merek baru yang bermunculan di berbagai daerah. Menurutnya, peningkatan tersebut terjadi baik pada pasar domestik maupun internasional.
"Potensinya menurut saya, dan teman-teman, dan semua kalangan sangat baik, karena industrinya selalu naik 3 sampai 5 persen bahkan," kata Felix saat dijumpai di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada Jumat (4/9/2026).
Felix menilai perkembangan industri tersebut menunjukkan kopi tidak hanya menjadi produk konsumsi, tetapi juga memiliki ruang besar untuk menciptakan nilai ekonomi dari hulu hingga hilir.
"Di semua teritori banyak sekali cabang-cabang, brand-brand baru bermunculan dan lahir, itu banyak sekali. Dan quantity-nya, juga picking up, mau secara nasional maupun internasional untuk kopi Indonesia," kata dia.
Data pemerintah menunjukkan produksi kopi nasional pada 2024 mencapai sekitar 813 ribu ton. Lebih dari 95 persen produksi kopi Indonesia dikelola oleh petani kecil, dengan sekitar 1,2 juta keluarga petani yang terlibat dalam industri tersebut.
Namun, menurut Felix, besarnya potensi ekonomi kopi perlu diikuti dengan penguatan ekosistem yang melibatkan seluruh pihak dalam rantai produksi. Pertumbuhan industri tidak cukup hanya diukur dari bertambahnya volume penjualan, produk, maupun penggunaan teknologi.
"Di balik satu cangkir kopi ada ekosistem manusia yang panjang dan saling terhubung. Ada petani yang menanam, pemetik yang memilih buah matang, prosesor yang mengolah, roaster yang menentukan karakter rasa, hingga barista yang menyajikannya,” ujar Felix.
Dia mengatakan, pertumbuhan industri kopi seharusnya mampu meningkatkan nilai tambah bagi para pelaku di daerah asal, terutama petani.
“Kalau pertumbuhan hanya berarti menjual lebih banyak kopi, tetapi petani tetap menghadapi risiko yang sama, kapasitas di daerah asal tidak berkembang, dan proses dipercepat dengan mengurangi standar, maka pertumbuhan tersebut belum tentu memperkuat ekosistem,” katanya.
Dia melihat pengembangan specialty coffee menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi Indonesia. Menurutnya, nilai specialty coffee tidak hanya ditentukan oleh grade atau metode penyeduhan, tetapi juga oleh pengetahuan dan budaya yang melekat pada proses produksinya.
“Specialty coffee bagi saya sangat luas. Bukan hanya mengenai grade, tetapi juga mengenai manusia dan budaya, bagaimana mereka memperlakukan kopi berdasarkan filosofi serta pengetahuan yang mereka miliki,” katanya.
Pendekatan tersebut diterapkan Roemah Koffie melalui ekosistem bisnis yang mencakup roastery dan pengembangan produk, jaringan kedai kopi, penyediaan kopi serta solusi F&B bagi pelanggan B2B, produk konsumen di kanal modern trade, hingga Roemah Koffie Academy untuk pendidikan dan pengembangan talenta kopi.
Felix menyampaikan, petani dan pengolah kopi perlu dipandang sebagai mitra strategis karena pengetahuan serta keputusan mereka turut menentukan kualitas dan karakter kopi.
Hal tersebut tercermin dalam filosofi 'Bean to Heart' yang diusung Roemah Koffie. Menurutnya, perjalanan kopi tidak berhenti ketika biji diolah menjadi minuman, tetapi mencakup kontribusi manusia pada setiap tahapan.
“Tanpa mereka, kami bukan apa-apa,” ujar Felix.
(Dhera Arizona)