Perjalanan Proyek LNG Abadi telah berlangsung sejak penemuan cadangan gas pada tahun 2000. Pengembangan sempat mengalami penyesuaian setelah pemerintah mengubah konsep dari fasilitas terapung (Floating LNG/FLNG) menjadi fasilitas darat (Onshore LNG).
Pada 2023, struktur kepemilikan proyek berubah setelah Shell melepas 35 persen participating interest kepada Pertamina Hulu Energi Masela sebesar 20 persen dan PETRONAS Masela sebesar 15 persen. Saat ini komposisi kepemilikan terdiri atas INPEX Masela 65 persen, Pertamina Hulu Energi Masela 20 persen, dan PETRONAS Masela 15 persen.
Memasuki 2026, pemerintah telah menyelesaikan sejumlah tahapan penting, mulai dari persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dimulainya pembangunan fisik proyek sejak Februari 2026, hingga rampungnya pembebasan lahan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar pada Juni 2026.
Sejumlah badan usaha milik negara juga telah menyatakan minat menjadi pembeli gas domestik. PLN, PGN, dan Pupuk Indonesia telah menandatangani Heads of Agreement (HoA) sebagai calon offtaker untuk memanfaatkan pasokan gas dari Blok Masela.
Bahlil menyebut, selain memperkuat pasokan energi nasional, proyek ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang besar. Nilai kontribusinya terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai USD137,7 miliar sepanjang masa operasi proyek.