sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Proyek Hilirisasi Banyak Digarap Asing, Bahlil Sebut Bank Dalam Negeri Belum Mau Biayai

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
07/08/2026 22:02 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui jika saat ini proyek hilirisasi belum seutuhnya memberikan dampak yang luas.
Proyek Hilirisasi Banyak Digarap Asing, Bahlil Sebut Bank Dalam Negeri Belum Mau Biayai. Foto: iNews Media Group.
Proyek Hilirisasi Banyak Digarap Asing, Bahlil Sebut Bank Dalam Negeri Belum Mau Biayai. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui jika saat ini proyek hilirisasi belum seutuhnya memberikan dampak yang luas bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. 
Dia pun mengungkap hilirisasi yang saat ini berjalan justru masih banyak dimanfaatkan oleh perusahaan asing dan perusahaan-perusahaan besar yang kantor pusatnya justru berada di Jakarta.

“Kami harus jujur mengatakan bahwa pada tahun-tahun pertama kami mendapat kritik paling pedas itu dari almarhum Faisal Basri dan Bapak Wapres Pak JK (Jusuf Kalla). Memprotes kami begini, 'Hilirisasi betul bagus, tapi kenapa yang merasakan manfaatnya itu oleh pihak luar? Setelah kita kaji, karena memang investasinya itu lebih banyak dari luar. Karena bank kita enggak mau membiayai itu," kata Bahlil dalam acara peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri Setengah Abad Bahlil Lahadalia, di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Dia pun mengungkap alasan proyek hilirisasi digarap orang asing maupun pengusaha-pengusaha besar yang berada di Jakarta lantaran perbankan dalam negeri masih enggan untuk membiayai. Sebab, proyek hilirisasi memerlukan pendanaan yang cukup besar, belum lagi beban bunga yang kurang kompetitif dengan bank-bank asing.

Namun demikian, dia menuturkan proyek hilirisasi saat ini memiliki harapan baru setelah dilakukan konsolidasi seluruh BUMN di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Sovereign Wealth Fund (SWF) ini diharapkan mampu mendorong pembiayaan dari dalam negeri untuk proyek-proyek hilirisasi.

"Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti betul tentang bagaimana tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara. Jadi ini yang menjadi apresiasi bagi kami yang luar biasa sekali," kata Bahlil.

Proyek hilirisasi dikuasai investasi asing (foreign direct investment/FDI) sepanjang Januari-Maret 2026. Pada kuartal I-2026, realisasi investasi hilirisasi yang ditanamkan pemodal asing mencapai Rp98,4 triliun. 

Secara geografis, 75,5 persen investasi hilirisasi berada di luar Jawa senilai Rp111,4 triliun. Secara rinci, provinsi Sulawesi Tengah menjadi lokasi hilirisasi terbesar dengan Rp24,1 triliun, disusul Maluku Utara, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.

Sektor mineral mendominasi capaian investasi dengan total Rp98,3 triliun, dipimpin oleh nikel Rp41,5 triliun, tembaga Rp 20,7 triliun, dan besi baja Rp17,0 triliun. Sektor perkebunan dan kehutanan menyumbang Rp29,8 triliun, didominasi kelapa sawit. Sementara minyak dan gas bumi berkontribusi Rp17,7 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp1,7 triliun.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement