Andry mengatakan industri manufaktur berkaitan erat dengan situasi moneter.
"Dalam beberapa tahun terakhir memang pressure-nya ke nilai tukar rupiah melemah terhadap US Dolar. Dan itu tentu saja buat importir ya, terutama untuk import to export, ya biaya untuk impornya juga semakin mahal, itu problem-nya," kata Andry.
Merujuk data Kementerian Perindustrian, sektor manufaktur berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai 17,39 persen pada triwulan III-2025. Capaian tersebut menjadikan sektor Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) sebagai penyumbang terbesar terhadap PDB nasional dibanding sektor lainnya.
(NIA DEVIYANA)