IDXChannel - Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menekankan perlu ada kebijakan pemerintah yang bisa mengerek pertumbuhan industri sektor manufaktur. Kebijakan fiskal yang berkorelasi dengan moneter mesti digodok kembali dalam mendukung arus perdagangan sektor tersebut.
Menurut Andry, stimulus ekonomi yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi seharusnya menyasar sektor industri padat karya, dengan potensi arus ekspor dan impor bernilai tinggi.
"Hampir tidak mungkin kita akan mendorong pertumbuhan di sektor manufaktur tanpa kebijakan industrialisasi manufaktur dan juga perdagangan link kepada off-taker di luar negeri untuk menjadi eksportir segala macam," kata Andry dalam diskusi bertajuk Economic Insight 2026: Unlocking Indonesia's Hidden Engine of Growth, yang digelar di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Andry mengatakan industri manufaktur berkaitan erat dengan situasi moneter.
"Dalam beberapa tahun terakhir memang pressure-nya ke nilai tukar rupiah melemah terhadap US Dolar. Dan itu tentu saja buat importir ya, terutama untuk import to export, ya biaya untuk impornya juga semakin mahal, itu problem-nya," kata Andry.
Merujuk data Kementerian Perindustrian, sektor manufaktur berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai 17,39 persen pada triwulan III-2025. Capaian tersebut menjadikan sektor Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) sebagai penyumbang terbesar terhadap PDB nasional dibanding sektor lainnya.
(NIA DEVIYANA)