"Saya pikir sudah bagus. Berarti minatnya besar. Jadi saya tunda sampai akhir Juli supaya yang beli makin banyak. Kalau besar nanti saya bisa serap sebanyak mungkin sesuai rencana atau bahkan lebih besar," katanya.
Purbaya menegaskan, penerbitan obligasi berdenominasi renminbi (RMB) ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah agar tidak hanya bergantung pada penerbitan surat utang dalam denominasi dolar AS.
"Ini langkah yang kelihatannya sederhana, tapi strategis. Karena kita diversifikasi sumber pendanaan, tidak hanya dari obligasi berdenominasi dolar, tetapi juga renminbi," ujarnya.
Dalam penerbitan Panda Bond tersebut, pemerintah akan menggunakan skema LCT. Melalui mekanisme ini, investor di China membeli obligasi menggunakan renminbi, sementara dana yang diterima pemerintah Indonesia akan langsung dikonversi menjadi rupiah melalui kerja sama antara bank sentral kedua negara.
"Begitu dijual nanti saya akan pakai jalur LCT. Mereka bayar dengan renminbi, kemudian melalui mekanisme bank sentral kedua negara saya langsung menerima rupiah," tutur Purbaya.