“Kalau melihat volumenya yang keluar selama ini kelihatannya tidak besar-besar amat. Harusnya dana kita cukup,” katanya.
Tujuan utama dari pembentukan BSF ini adalah untuk meredam spekulasi dan menjaga agar harga obligasi pemerintah tetap stabil, sehingga tidak menciptakan efek domino yang negatif di pasar keuangan nasional.
“Urgensinya cuma itu, menjaga harga bond kita supaya stabil supaya tidak menimbulkan kegaduhan di pasar modal kita,” imbuhnya.
Langkah stabilisasi ini menjadi krusial mengingat tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun sempat menunjukkan tren kenaikan ke level 6,32 persen, naik dari posisi sebelumnya di kisaran 5,9 persen. Kenaikan yield ini dipicu oleh meningkatnya risiko global, fluktuasi pasar keuangan, serta arah kebijakan moneter dunia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena yield yang tinggi dapat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui peningkatan biaya bunga utang. Dengan adanya BSF, pemerintah berharap dapat memitigasi risiko tersebut dan menjaga daya tahan fiskal tetap sehat.
(Febrina Ratna Iskana)