Penyebaran wilayah investasi juga menunjukkan keseimbangan yang nyaris setara antara Jawa dan luar Jawa. Wilayah Jawa mencatatkan realisasi Rp502,8 triliun (porsi 49,8 persen, tumbuh 7,7 persen), sedangkan luar Jawa sedikit memimpin dengan capaian Rp507,8 triliun (porsi 50,2 persen, tumbuh 6,7 persen).
Apabila ditinjau berdasarkan wilayah administratif secara kumulatif baik PMA dan PMDN, DKI Jakarta masih menempati posisi pertama dengan kontribusi sebesar 17,2 persen. Posisi berikutnya secara berurutan diisi oleh Jawa Barat dengan Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.
Untuk kategori realisasi PMA murni, tiga wilayah di luar Jawa seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau menjadi primadona seiring tingginya potensi di bidang mineral.
Sementara itu, pilar PMDN menunjukkan DKI Jakarta sebagai kontributor utama dengan raihan Rp106,5 triliun (21,2 persen), diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.
Sektor logam dasar, barang logam bukan mesin, serta peralatannya menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp150,4 triliun (14,9 persen), disusul sektor jasa lainnya yang didominasi data center sebesar Rp114 triliun (11,3 persen), pertambangan Rp105,3 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sekitar 10,2 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp85,5 triliun (8,5 persen).