sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Realisasi Investasi Tembus Rp1.010 Triliun di Semester I-2026, Rosan: Mayoritas Investor Asing

Economics editor Rohman Wibowo
16/07/2026 15:43 WIB
Realisasi investasi sepanjang semester I-2026 berhasil menembus angka sebesar Rp1.010,6 triliun.
Realisasi Investasi Tembus Rp1.010 Triliun di Semester I-2026, Rosan: Mayoritas Investor Asing. (Foto: Rohman Wibowo/iNews Media Group)
Realisasi Investasi Tembus Rp1.010 Triliun di Semester I-2026, Rosan: Mayoritas Investor Asing. (Foto: Rohman Wibowo/iNews Media Group)

IDXChannel - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang semester I-2026 berhasil menembus angka sebesar Rp1.010,6 triliun. 

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,2 persen secara tahunan (year-on-year), dengan kontribusi terbesar bersumber dari Penanaman Modal Asing (PMA) yang mengungguli penanaman modal dalam negeri. 

"Komitmen dari para investor untuk berinvestasi langsung di Indonesia atau Foreign Direct Investment ini masih in-line dengan target yang dicanangkan, yang kita set up oleh Bappenas untuk 2026 ini," papar Rosan dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Rosan menekankan bahwa capaian tersebut setara dengan 49,5 persen dari total target investasi yang dipatok sepanjang tahun ini. Adapun total target secara keseluruhan pada 2026 mencapai Rp2.041,3 triliun.  

Dari aspek komposisi, realisasi PMA tercatat mendominasi dengan kontribusi mencapai Rp507,6 triliun (50,2 persen), mengungguli realisasi PMDN yang berada di angka Rp502,9 triliun (49,8 persen).

Penyebaran wilayah investasi juga menunjukkan keseimbangan yang nyaris setara antara Jawa dan luar Jawa. Wilayah Jawa mencatatkan realisasi Rp502,8 triliun (porsi 49,8 persen, tumbuh 7,7 persen), sedangkan luar Jawa sedikit memimpin dengan capaian Rp507,8 triliun (porsi 50,2 persen, tumbuh 6,7 persen).

Apabila ditinjau berdasarkan wilayah administratif secara kumulatif baik PMA dan PMDN, DKI Jakarta masih menempati posisi pertama dengan kontribusi sebesar 17,2 persen. Posisi berikutnya secara berurutan diisi oleh Jawa Barat dengan Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun. 

Untuk kategori realisasi PMA murni, tiga wilayah di luar Jawa seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau menjadi primadona seiring tingginya potensi di bidang mineral. 

Sementara itu, pilar PMDN menunjukkan DKI Jakarta sebagai kontributor utama dengan raihan Rp106,5 triliun (21,2 persen), diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.

Sektor logam dasar, barang logam bukan mesin, serta peralatannya menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp150,4 triliun (14,9 persen), disusul sektor jasa lainnya yang didominasi data center sebesar Rp114 triliun (11,3 persen), pertambangan Rp105,3 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sekitar 10,2 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp85,5 triliun (8,5 persen).

Dari sisi asal negara pengirim modal, Singapura masih mempertahankan posisinya sebagai investor terbesar sepanjang paruh pertama tahun ini. Hanya saja, ada pergerakan modal investasi yang cukup masif dari Hongkong.

"Ada 5 negara, memang Singapura dalam 10 tahun terakhir ini masih memegang perannya sebagai investor terbesar di Indonesia. Singapura kurang lebih USD8,8 miliar, kemudian diikuti oleh Hong Kong USD7,6 miliar, China USD4,9 mliar, Jepang USD1,9 mliar, Amerika Serikat USD1,7 miliar," urai Rosan.

"Tetapi sebetulnya terjadi pergeseran sedikit di kuarter kedua ini, karena investor terbesar kita itu justru adalah Hong Kong di kuarter kedua, itu di angka kurang lebih USD5,5 miliar, baru diikuti oleh Singapura, China, Jepang, dan Amerika Serikat. Tapi secara overall di semester pertama ini masih ditempati oleh Singapura," Rosan menambahkan.

Tak hanya itu, Rosan mengatakan pada semester pertama ini, realisasi investasi di sektor hilirisasi tercatat menyumbang hampir 30 persen atau setara 29,7 persen dari total realisasi nasional, merepresentasikan pertumbuhan tahunan sebesar 6,9 persen.

Sektor mineral masih mendominasi pilar hilirisasi dengan serapan modal mencapai Rp206,5 triliun, diikuti sektor perkebunan dan kehutanan senilai Rp54,4 triliun, minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun, serta sektor perikanan dan kelautan yang menyumbang Rp3,8 triliun.

Seturut itu, dia menjabarkan soal efek rambatan dari ribuan triliunan rupiah untuk mendompleng perekonomian. Semisal terbukanya lapangan kerja di lintas sektor dalam jumlah tidak sedikit.

"Dan ini target, sesuai dengan target kami, itu adalah 49,5 persen dari total target dalam satu tahun. Dan yang paling penting adalah kita bisa lihat di sini penyerapan tenaga kerjanya itu mencapai 1.448.862 orang, atau kurang lebih peningkatan 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya," urai Rosan.

Dengan laporan tersebut, Rosan mengatakan ada potensi investasi di hilirisasi ini ke depannya, baik dalam negeri maupun luar negeri.

"kita ketahui ada beberapa proyek hilirisasi yang dikerjakan juga oleh Danantara sehingga akan meningkatkan peran dari investasi di hilirisasi yang memang pada saat ini masih didominasi oleh bidang mineral kurang lebih mencapai Rp206,5 triliun," imbuhnya.

(Febrina Ratna Iskana) 

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement