Hal serupa juga terjadi pada komoditas tembaga. Pangsa produksi Indonesia hanya sekitar 4 persen dari dunia, namun gejolak harga global sempat terjadi ketika operasional tambang besar seperti Freeport mengalami gangguan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar dan gangguan pasokan dari satu produsen besar saja bisa memicu volatilitas harga, meskipun kontribusi volumenya tidak dominan.
Sementara itu, posisi Indonesia jauh lebih kuat di sektor nikel. Dari total kebutuhan nikel dunia sekitar 3,2–3,4 juta ton per tahun, produksi Indonesia mencapai 2,2 juta ton atau sekitar 65 persen dari pasokan global. Dengan porsi sebesar itu, Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dan baja tahan karat dunia.
Namun, pada komoditas timah, meski produksi Indonesia relatif lebih kecil, dampaknya terhadap harga global tetap signifikan. Produksi nasional timah hanya sekitar 50.000 ton per tahun, tetapi pergerakan harga dunia dinilai sangat dipengaruhi oleh pasokan dari Indonesia.
Harga timah dunia yang sebelumnya berada di kisaran USD33.000 per metrik ton melonjak hingga menembus USD51.000 per metrik ton. Kenaikan ini diyakini tidak lepas dari berhentinya aktivitas pasar gelap timah yang sebelumnya terjadi melalui jalur penyelundupan ke Malaysia dan Singapura.