Berdasarkan wilayah secara kumulatif, baik PMA ditambah PMD, DKI Jakarta menduduki urutan pertama dengan porsi 17,2 persen, diikuti oleh Jawa Barat dengan Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.
Namun, untuk kategori PMA murni, investor asing lebih melirik wilayah luar Jawa seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau karena besarnya potensi di bidang mineral. Pada pilar PMDN, DKI Jakarta memimpin dengan realisasi Rp16,5 triliun (21,2 persen), diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.
Di tingkat sektor usaha, industri logam dasar serta barang logam bukan mesin mencatatkan realisasi terbesar senilai Rp150,4 triliun (14,9 persen), diikuti sektor jasa lainnya yang didominasi data center sebesar Rp114 triliun (11,3 persen), pertambangan Rp105 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sekitar 10,2 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar 8,5 persen.
Dari sisi asal negara pengirim modal, Singapura masih bertengger sebagai investor terbesar secara kumulatif sepanjang paruh pertama 2026. Meski begitu, Hongkong sempat mencatatkan kenaikan arus modal pada kuartal kedua tahun ini.
Rosan memaparkan bahwa posisi lima besar investor di Indonesia selama semester pertama masih didominasi oleh negara-negara Asia. Singapura mencatatkan nilai investasi sebesar kurang lebih USD 8,8 miliar, disusul Hong Kong sebesar USD7,8 miliar, China USD3,9 miliar, Jepang USD1,9 miliar, dan Amerika Serikat senilai USD1,7 miliar.