"Ini adalah sesuatu yang menurut saya bukan hanya untuk industri minyak dan gas, tetapi juga anggota industri batu bara. Dan batu bara, seperti yang Anda ketahui, merupakan bagian yang sangat vital dari perekonomian kita dan memberikan banyak devisa," ujar Hashim dalam paparannya.
Hashim menerangkan, teknologi penangkapan karbon saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Salah satunya melalui eksperimen teknologi carbon capture asal Jepang yang dilakukan di Petrokimia Gresik.
Teknologi tersebut, kata dia, mampu mengurangi emisi karbon hingga 90-95 persen. Selain menangkap emisi, proses tersebut juga menghasilkan produk sampingan berupa soda ash yang selama ini masih banyak diimpor Indonesia.
"Eksperimen tersebut membuktikan bahwa 95 persen emisi karbon dapat dihilangkan, dan produk sampingannya adalah sesuatu yang dibutuhkan Indonesia, yaitu baking soda atau soda ash," katanya.
(Dhera Arizona)