AALI
9975
ABBA
298
ABDA
6550
ABMM
1410
ACES
1290
ACST
193
ACST-R
0
ADES
3430
ADHI
835
ADMF
7625
ADMG
182
ADRO
2260
AGAR
346
AGII
1405
AGRO
1255
AGRO-R
0
AGRS
161
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
176
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1125
AKRA
800
AKSI
705
ALDO
1315
ALKA
318
ALMI
0
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.49
-1.21%
-6.22
IHSG
6668.50
-0.86%
-57.87
LQ45
948.82
-1.14%
-10.94
HSI
24758.92
-0.83%
-206.63
N225
27371.11
-0.55%
-151.15
NYSE
16397.34
-1.6%
-266.43
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,343
Emas
845,552 / gram

Sektor Manufaktur Hemat Energi Hingga Rp3,2 Triliun Pasca Terapkan Industri Hijau

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Selasa, 30 November 2021 16:37 WIB
Penerapan industri hijau juga kami mencatat telah menghemat energi sebesar Rpp3,2 triliun.
Penerapan industri hijau juga kami mencatat telah menghemat energi sebesar Rpp3,2 triliun. (Foto: MNC Media)
Penerapan industri hijau juga kami mencatat telah menghemat energi sebesar Rpp3,2 triliun. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya memacu pembangunan industri hijau untuk mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Hal ini agar pembangunan industri selaras dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Melalui upaya penerapan industri hijau juga kami mencatat telah menghemat energi sebesar Rpp3,2 triliun, dan penghematan air sebesar Rp169 miliar. Pencapaian ini memperkuat komitmen industri untuk memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan dalam jangka panjang," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (30/11/2021).

Menperin menjelaskan, industri hijau merupakan perusahaan manufaktur yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sejalan dengan program Making Indonesia 4.0. Prinsip ini diyakini akan mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

"Saat ini Kemenperin sedang mengakselerasi ekonomi berbasis industri hijau melalui efisiensi sumber daya alam dan penerapan circular economy, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti biofuel, biomass dan refuse derived fuel (RDF) atau bahan bakar yang dihasilkan dari berbagai jenis limbah seperti limbah padat perkotaan, limbah industri atau limbah komersial," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Kemenperin memberikan penganugerahan Penghargaan Industri Hijau kepada perusahaan industri yang telah mewujudkan industri hijau serta berkomitmen menerapkan prinsip tersebut secara konsisten dan berkelanjutan. 

Di tahun ini, Penghargaan Industri Hijau diberikan kepada terdapat 137 perusahaan, dan Sertifikat Industri Hijau kepada tujuh perusahaan industri yang telah mendukung konsep green economy, green technology dan green product dengan menerapkan upaya-upaya efisiensi dalam efektivitas dalam proses produksinya.

Dia berharap, melalui pelaksanaan program Penganugerahan Penghargaan Industri Hijau dan Penyerahan Sertifikat Industri Hijau ini dapat terus meningkatkan pemahaman bagi dunia industri tentang perlunya penerapan prinsip-prinsip industri hijau untuk mencapai efisiensi.

"Saatnya kita semua bersama-sama menjadi bagian dari transformasi menuju pembangunan industri berkelanjutan dengan mendukung penciptaan industri yang ramah lingkungan. Melalui upaya tersebut diharapkan daya saing industri nasional di kancah global terus meningkat," jelas Agus. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD