AALI
8300
ABBA
226
ABDA
7050
ABMM
840
ACES
1370
ACST
240
ACST-R
0
ADES
1970
ADHI
970
ADMF
8175
ADMG
166
ADRO
1310
AGAR
380
AGII
1095
AGRO
1095
AGRO-R
0
AGRS
426
AHAP
66
AIMS
352
AIMS-W
0
AISA
228
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3230
AKSI
480
ALDO
925
ALKA
246
ALMI
250
ALTO
380
Market Watch
Last updated : 2021/06/15 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
478.24
-0.14%
-0.66
IHSG
6089.04
0.14%
+8.65
LQ45
895.20
-0.08%
-0.70
HSI
28638.53
-0.71%
-203.60
N225
29441.30
0.96%
+279.50
NYSE
16662.42
-0.2%
-32.51
Kurs
HKD/IDR 1,830
USD/IDR 14,220
Emas
853,049 / gram

Selain Keuntungan, Intip Lima Risiko Investasi Properti Yu

ECONOMICS
Shifa Nurhaliza
Jum'at, 14 Mei 2021 15:27 WIB
Bisnis properti memang bisnis yang menjanjikan profit besar namun juga ada risiko yang tidak dapat dihindari.
Selain Keuntungan, Intip Lima Risiko Investasi Properti Yuk!. (Foto : MNC Media)

IDXChannel - Bisnis properti memang bisnis yang menjanjikan profit besar namun juga ada risiko yang tidak dapat dihindari. Pertumbuhan jumlah penduduk dan keluarga baru menjadi faktor utama semakin banyak pemain di bisnis properti.

Akan tetapi walau terlihat menarik, tentu saja ada resiko investasi properti sama seperti resiko investasi saham atau invesatsi lainnya. Mengutip berbagai sumber, Jumat (14/5/2021), berikut sejumlah risiko jika Anda ingin berinvestasi dibidang properti:

  1. Modal yang Besar

Salah satu resiko invetasi properti yang paling awal adalah harus mengeluarkan modal yang besar. Properti memang berbeda dengan produk investasi lainnya seperti investasi saham, investasi emas atau investasi reksadana yang bisa dimulai dengan nilai kecil.

Pada bisnis properti umumnya uang yang dikeluarkan untuk membeli properti tersebut relatif besar, apalagi harga tanah cenderung mengalami kenaikan setiap tahun. Hal ini juga berlaku untuk investasi apartemen yang memerlukan modal ratusan juta sampai miliaran rupiah.

Modal yang dikeluarkan harus dicatat dalam pembukuan agar rapi dan bisnis bisa berkembang. Gunakan aplikasi atau jasa pihak lain jika diperlukan untuk melakukan itu. Lihat disini untuk mengetahui tentang aplikasi dan jasa pihak lain dalam merapikan pembukuan.

  1. Ketidakpastian Kondisi Pasar

Meskipun kebutuhan akan tempat tinggal baik rumah atau apartemen terus meningkat tapi bukan jaminan bahwa produk properti pasti terjual. Hal ini karena daya beli terhadap properti dipengaruhi oleh faktor ekonomi masyarakat, faktor pajak dan kebijakan pemerintah dan lain sebagainya.

Pada industri properti memang ada siklus naik dan turun dan ini harus diketahui oleh pebisnis properti untuk mengurangi resiko investasi properti yang dilakukan. Dan disaat kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini maka banyak investasi yang menurun pertumbuhannnya termasuk invetasi di properti.

  1. Tidak Liquid

Properti juga bukan merupakan investasi yang mudah liquid. Maksudnya adalah jika kita mau menjual properti maka memerlukan waktu yang tidak menentu, bisa cepat atau lama untuk terjual.  Jadi membutuhkan waktu untuk kita menjadi properti itu uang cash, bahkan ditengah situasi ekonomi lesu dibutuhkan waktu lebih panjang dalam menjual properti.

Ini juga yang menjadi pembeda investasi di properti dengan investasi emas atau saham yang sangat liquid, oleh karenanya investasi tersebut banyak dijual di platform-platform investasi online. Karena saat ini investor lebih condong ke investasi yang liquid.

  1. Beban Perawatan

Hal lain yang harus diperhatikan sebagai resiko investasi properti adalah bahwa beban perawatan merupakan tanggung jawab pemilik properti. Beban perawatan itu misalnya pengecatan tembok, kebocoran atap atau kamar mandi, keretakan tembok, pemotongan rumput dan lain sebagainya.

Beban perawatan yang dibebankan ke pemilik properti sebagian besar karena propertinya tidak ditinggali, belum tersewa atau terjual. Hal ini wajib dihitung sebagai resiko investasi properti sebelum Anda membeli properti tersebut.

  1. Penyusutan Bangunan

Resiko investasi properti lainnya adalah penyusutan bangunan. Hal ini lebih banyak dialami properti rumah dibandingkan apartemen. Ini merupakan salah satu keuntungan investasi apartemen.

Kekurangannya adalah apartemen setelah 20 tahun ditempati maka harus mengurus perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB), karena sertifikat apartemen bukan Sertifikat Hak Milik (SHM).

Beban penyusutan bangunan merupakan resiko investasi properti yang harus ditanggung pemiliknya. Dalam dunia usaha beban penyusutan harus dicatat karena itu mempengaruhi valuasi dari aset perusahaan. Jadi jangan lupa mencatat penyusutan bangunan properti Anda ya. (FHM)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD