Meski demikian, Bapanas menegaskan agar Perum Bulog selaku operator pelaksana tidak menyalurkan jagung pakan bersubsidi ke wilayah yang tengah memasuki masa panen raya jagung. Kebijakan ini ditempuh untuk tetap menjaga kesejahteraan petani jagung dalam negeri.
Sementara itu, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa telur ayam dan daging ayam ras merupakan komoditas pangan strategis yang saat ini telah mencapai swasembada nasional.
“Indonesia sekarang sudah swasembada sembilan komoditas, mulai dari beras, jagung pakan, bawang merah, cabai, telur ayam, daging ayam, hingga gula dan minyak goreng. Kita tidak impor,” kata Amran.
Menurutnya, peningkatan produksi pangan domestik membuat fluktuasi harga seharusnya dapat lebih terkendali. Bahkan, Indonesia telah mencatatkan surplus produksi di tengah krisis pangan global.
“Produksi sudah selesai dan kita surplus. Daging ayam dan telur ayam juga sudah ekspor. Jadi tidak ada alasan harga naik berlebihan,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga daging ayam ras hingga minggu ketiga Februari 2026 tercatat di Rp40.789 per kilogram, menjadi level tertinggi dalam setahun terakhir. Sementara itu, Panel Harga Pangan Bapanas mencatat harga telur ayam berada di Rp31.278 per kilogram per 25 Februari 2026.
Dengan tren harga tersebut, pelaksanaan SPHP jagung pakan dinilai tepat untuk segera digulirkan mulai Maret 2026, terutama menjelang Idul fitri yang biasanya diiringi peningkatan permintaan pangan. Langkah ini diharapkan mampu menahan gejolak harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
(Shifa Nurhaliza Putri)