Secara kuartalan, penjualan rumah pada periode yang sama juga turun 7,69 persen (quarter to quarter/qtq), setelah sebelumnya tumbuh tipis sebesar 2,01 persen qtq pada kuartal IV-2025.
Menurut Martin, pelemahan pasar perumahan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam mengambil keputusan finansial jangka panjang. Ketidakpastian ekonomi membuat sebagian masyarakat memilih mempertahankan likuiditas dibandingkan melakukan pembelian aset bernilai besar seperti rumah.
"Rumah itu investasi jangka panjang. Ketika kondisinya tidak pasti, masyarakat memilih tidak dulu beli rumah karena yang penting ada uang di tabungan untuk makan," tutur dia.
Martin mengungkapkan, penurunan penjualan rumah dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari penyusutan populasi kelas menengah hingga meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap risiko keuangan di masa depan.
Ketika tekanan ekonomi meningkat, kebutuhan jangka panjang seperti pembelian rumah menjadi salah satu sektor yang pertama kali ditunda oleh masyarakat.