Menyoroti sisi struktural, Solikin mengingatkan nilai rupiah pada akhirnya ditentukan oleh dinamika permintaan (demand) dan penawaran (supply). Tantangan utama terletak pada bagaimana mengelola kebutuhan impor dan pembayaran utang agar seimbang dengan pemasukan dari ekspor dan aliran modal asing.
Menurutnya, untuk menarik minat investor global menanamkan dolarnya di Indonesia, pasar keuangan domestik harus memiliki instrumen yang dalam dan menarik.
"Dolar enggak akan masuk apabila dia bingung mau menanamkan di mana. Nah itulah kenapa konteks dari yang DHE untuk maritim, sehingga bagaimana kebijakan pemerintah untuk SDA, di bank Himbara yang terbaru 100 persen selama 12 bulan, ini salah satu terobosan untuk bisa kita kawal, tapi khusus SDA yang kami tekankan. Sambil di situ di pasar keuangan harus dikembangkan instrumen-instrumen yang memang favorable untuk mereka menanam," kata dia.
Di hadapan para anggota dewan, Solikin juga menekankan pentingnya koordinasi terintegrasi di dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Dia memandang stabilitas tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus berjalan beriringan dengan dorongan pertumbuhan dan perluasan inklusi ekonomi.
"Maknanya adalah kita menjaga resiliensi, kita juga mendorong pertumbuhan, dan memperluas inklusi sebagaimana disampaikan oleh Bapak Gubernur Bank Indonesia. Itulah konteks sustainability yang kita anut," ujar Solikin.
Strategi yang dipaparkan Solikin ini menunjukkan komitmen untuk membawa BI lebih proaktif dalam memperkuat ekosistem pasar keuangan demi menjaga stabilitas nilai tukar yang berkelanjutan di tengah tantangan global 2026.
(Dhera Arizona)