AALI
10425
ABBA
424
ABDA
0
ABMM
1500
ACES
1405
ACST
282
ACST-R
0
ADES
2550
ADHI
1185
ADMF
7975
ADMG
228
ADRO
1860
AGAR
346
AGII
1515
AGRO
2010
AGRO-R
0
AGRS
204
AHAP
64
AIMS
406
AIMS-W
0
AISA
240
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
635
AKRA
4280
AKSI
430
ALDO
705
ALKA
234
ALMI
234
ALTO
308
Market Watch
Last updated : 2021/10/15 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
517.26
-0.05%
-0.28
IHSG
6633.34
0.11%
+7.22
LQ45
972.21
-0.05%
-0.45
HSI
25330.96
1.48%
+368.37
N225
29068.63
1.81%
+517.70
NYSE
16744.29
1.4%
+231.13
Kurs
HKD/IDR 1,817
USD/IDR 14,150
Emas
812,528 / gram

Stafsus BUMN Bantah Proyek Kereta Cepat (KCJB) Tak Balik Modal: Itu Sangat Konyol!

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Kamis, 14 Oktober 2021 20:49 WIB
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menyebut, berdasarkan hitungan kasar pengembalian modal KCJB akan sama seperti Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.
Stafsus BUMN Bantah Proyek Kereta Cepat (KCJB) Tak Balik Modal: Itu Sangat Konyol! (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Payback period atau pengembalian modal dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) diperkirakan sekitar 40 tahun mendatang. Perkiraan itu juga merupakan perhitungan konservatif Kementerian BUMN sebagai pemegang saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).  

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menyebut, berdasarkan hitungan kasar pengembalian modal KCJB akan sama seperti Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.  

"Secara konservatif, hitungan kita tetap payback period untuk equity-nya itu, ini ya 40-an tahun. Tapi kita belum tahu ya, ini hitungannya hanya kasar masih. Ini kan mirip-mirip dengan MRT," ujar Arya kepada Wartawan, Kamis (14/10/2021). 

Pernyataan arya tersebut sekaligus merespon kritikan yang disampaikan ekonom senior asal Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri bahwa KCJB sebagai mega proyek di sektor transportasi yang tak akan balik modal. Bahkan, pengerjaan proyek strategi nasional (PSN) itu hanya membuang banyak anggaran negara saja. 

Meski demikian, Arya membantah tuduhan tersebut. Dia menilai pernyataan Faisal adalah subjektif. Pasalnya, tidak didasarkan pada analisis yang memadai sehingga tidak memiliki angka-angka pasti. 

Menurutnya, hampir seluruh negara melihat investasi dalam proyek kereta api (railway) bersifat jangka panjang dan bukan jangka pendek. Khususnya, negara-negara dengan tingkat investasi yang cukup rendah. Hitungan tersebut sama dengan investasi di MRT.  

"Dan hampir semua di seluruh dunia namanya railway, investasi di kereta api, kereta seperti itu pasti panjang, nggak mungkin pendek. Dan ini umum seperti itu. Hampir semua negara yang low investasi untuk perusahaan khususnya untuk usaha kereta cepat seperti, MRT, ya segitu. Begitu dia bisa kembali balik modal dan lainnya," katanya.  

Karena itu, pernyataan bahwa proyek KCJB tidak akan balik modal adalah pernyataan konyol. "Coba aja cek deh di MRT, berapa tahun? Mirip-mirip, nggak jauh nanti dari situ 40-an tahun juga. Jadi, kalo dikatakan sampai kapanpun akan rugi, itu konyol, Itu faisal Basri sangat-sangat konyol," ungkap dia. 

Di lain sisi, pemegang saham juga menegaskan belum ada angka pasti perihal pembengkakan biaya atau cost overrun proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Saat ini, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tengah melakukan audit atas perkara cost overrun tersebut. 

Padahal, manajemen PT Kereta Api (Persero) sudah membeberkan pembengkakan KCJB mencapai USD3,8 miliar- USD4,9 miliar atau setara Rp 54 triliun- Rp 69 triliun.  

"Ini perlu saya sampaikan bahwa memang kita masih menghitung. Tunggu dulu nih. Cost overrun itu muncul berapa angka yang sebenarnya. Setelah diaudit oleh BPKP baru kita bisa tahu angka yang sebenarnya," ungkap dia.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD