AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Tak Lagi Pakai Dolar AS, Tekanan Terhadap Rupiah dan Yuan Ikut Terkikis

ECONOMICS
Shifa Nurhaliza
Selasa, 27 Juli 2021 16:04 WIB
Bank Indonesia mengemukakan bahwa tidak akan gunakan Dolar Amerika Serikat (AS) sebagai perantara perdagangan Indonesia dan China.
Tak Lagi Pakai Dolar AS, Tekanan Terhadap Rupiah dan Yuan Ikut Terkikis. (Foto: MNC Media)
Tak Lagi Pakai Dolar AS, Tekanan Terhadap Rupiah dan Yuan Ikut Terkikis. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Bank Indonesia mengemukakan bahwa tidak akan gunakan Dolar Amerika Serikat (AS) sebagai perantara perdagangan Indonesia dan China. Melalui perjanjian Local Currency Settlement atau LCS, transaksi bilateral antar dua negara akan memakai mata uang lokal Rupiah dan Yuan.

Kementerian Perdagangan melihat kebijakan ini akan memberikan sejumlah keuntungan bagi negara Indonesia. Terlebih total transaksi bilateral Indonesia dan China pada tahun 2020 lalu mencapai USD71,42 miliar atau 23,4%. Sedangkan dari periode Januari hingga Mei 2021 sebesar USD38,95 atau 24,6%.

Menutip program Market Review IDX Channel, Selasa (27/7/2021), Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal menyebutkan hal ini merupakan langkah strategis karena dapat mengurangi risiko volatilitas terhadap USD.

“Meskipun demikian, tentunya, kita juga harus sadar bahwa ada risiko-risiko lain. Seperti misalnya kalau kita lihat China sendiri sejak dia membuka peluang ini, bukan artinya risiko volatilitas itu hilang sama sekali,” tuturnya.

Jika transaksi dilakukan dengan mata uang lokal, kebijakan itu akan dipandang menurunkan permintaan akan USD yang selama ini berfungsi sebagai perantara transaksi. Jika permintaan akan USD menurun maka tekanan terhadap Rupiah dan Yuan sebagai nilai tukar akan menurun dan lebih terapresiasi.

Selain itu, kondisi tersebut juga akan mengurangi volatilitas harga sehingga pelaku usaha dapat mengurangi biaya yang selama ini dialokasikan untuk mitigasi risiko perdagangan internasional.

Adapun volatilitas harga akan mengurangi keuntungan. Dengan demikian diharapkan dengan menurunnya volatilitas harga, biaya produksi, harga jual, dan profit akan lebih terprediksi.

Aturan mata uang ini tidak hanya berlaku untuk perdangan Indonesia dan China. Namun juga bisa diperluas ke sektor investasi dan perdagangan pasar uang. (TYO)

(Ditulis oleh: Firda)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD