“Dalam kondisi tersebut, tekanan terhadap APBN menjadi cukup besar karena tambahan subsidi berpotensi mendorong defisit mendekati batas 3 persen,” kata Faisal.
Menurutnya, situasi ini menuntut pemerintah untuk menyiapkan langkah strategis, seperti efisiensi belanja, realokasi anggaran, serta penguatan bauran kebijakan agar stabilitas fiskal tetap terjaga di tengah tekanan global.
Di sisi lain, Faisal menilai kebijakan menjaga harga BBM domestik tetap penting untuk mengendalikan inflasi, mengingat kenaikan harga energi memiliki dampak luas terhadap harga barang dan jasa di dalam negeri.
Sebagai informasi, dalam APBN 2026, pemerintah mengalokasikan Rp210,1 triliun untuk subsidi energi yang mencakup BBM, listrik, dan LPG 3 kg. Dengan adanya tambahan ini, total beban subsidi akan meningkat signifikan demi menjaga daya beli masyarakat di tengah tren kenaikan harga minyak global.
PT Pertamina Patra Niaga juga telah mengonfirmasi bahwa harga seluruh produk BBM per 1 April 2026 tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite tetap di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Untuk produk nonsubsidi seperti Pertamax, harga tetap dibanderol Rp12.300 per liter untuk wilayah Jawa-Bali.
Penulis: Nasywa Salsabila
(Dhera Arizona)