AALI
7950
ABBA
600
ABDA
0
ABMM
1240
ACES
1320
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2410
ADHI
685
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1335
AGAR
398
AGII
1790
AGRO
2500
AGRO-R
0
AGRS
264
AHAP
59
AIMS
420
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
650
AKRA
3600
AKSI
422
ALDO
635
ALKA
226
ALMI
270
ALTO
328
Market Watch
Last updated : 2021/07/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
438.19
-1.28%
-5.68
IHSG
6070.04
-0.83%
-50.69
LQ45
823.04
-1.17%
-9.71
HSI
25961.03
-1.35%
-354.29
N225
27283.59
-1.8%
-498.83
NYSE
16697.14
0.75%
+123.58
Kurs
HKD/IDR 1,858
USD/IDR 14,460
Emas
850,320 / gram

Tren Konsumsi Batubara Masih Prospektif, Ini Tantangannya

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Senin, 14 Juni 2021 19:27 WIB
Tahun ini tren konsumsi batu bara di Indonesia menduduki posisi pertama berkat pertumbuhan ekonomi di China.
Tren konsumsi batu bara di Indonesia menduduki posisi pertama berkat pertumbuhan ekonomi di China. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Masa Pandemi Covid-19 tidak menyusutkan harga batu bara. Tahun ini tren konsumsi batu bara di Indonesia menduduki posisi pertama berkat pertumbuhan ekonomi di China.

Head of Corporate Ratings PT PEFINDO, Niken Indriarsih mengungkapkan, dalam masa pendemi Covid-19 China merupakan negara pertama yang menekan angka pertumbuhan Covid dengan penemuan vaksin. Ini menunjukkan pulihnya perekonomian China dan elemen manufaktur kembali pulih di tahun 2021.

Niken mengatakan, perubahan perekonomian mendorong permintaan batu bara di China mengalami peningkatan. Namun dibalik itu, persediaan batu bara di China juga mengalami penurunan atau ada kendala. 

“Karena memang dibeberapa daerah pasokannya terganggu atau karena bisa juga disebabkan dengan faktor cuaca. Kemudian dari sisi impor batu bara dari China juga membatasi,” jelasnya dalam Market Review di IDX Channel, Senin (14/6/2021). 

Selanjutnya, ia mengungkapkan, tren konsumsi batu bara di Indonesia sendiri masih tumbuh positif. Hal itu karena batu bara merupakan komoditas yang sangat diperlukan dalam kehidupan, salah satunya adalah PLN. Pada 2020 PLN memberikan kontribusi sebesar 39% dari total pembangkit listrik yang dimiliki. Selain itu, Niken menginfokan bahwa PLN Indonesia akan tetap menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). 

“Ketergantungan yang besar terhadap PLTU di Indonesia ini membuat permintaan batu bara akan tetap stabil. Dan mungkin bisa meningkat lagi kedepannya atau lebih besar lagi diiringi dengan penyelesaian pembangunan PLTU yang sedang dikerjakan. Karena mungkin akan ada penambahan daya sekitar 13.000 mega watt yang akan beroperasi,” paparnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Niken juga membahas tantangan yang dihadapi oleh industri batu bara nasional. Menurutnya , akan ada tantangan besar didepan baik secara internal ataupun eksternal. Dari sisi internal, operasional akan melakukan efiensi dari biaya produksi agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Sebagai informasi, sektor batu bara ini merupakan sektor komoditas yang dimana permainan harga diluar kendali para pemain. 

“Walaupun saat ini mungkin harga sedang meningkat, ditahun yang akan datang bisa saja terjadi kondisi yang sebaliknya,”tandasnya. 

Kemudian ia melanjutkan, tantangan untuk menjaga efisiensi biaya produksi belum menjadi tantangan tersediri bagi para pemain disektor batu bara. Namun yang perlu dipertimbangkan adalah pemanfaatan teknologi untuk mendukung produksi batu bara.

Sementara dari tantangan eksternal berupa tuntutan untuk lebih menjalankan kegiatan pertambangan yang ramah lingkungan sebagai upaya meningkatkan daya saing dengan sumber energi terbarukan. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD