IDXChannel - Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar USD1,6 miliar pada Mei 2026, menandai berakhirnya tren surplus beruntun yang telah bertahan selama 72 bulan
Pada Mei, nilai impor tercatat sebesar USD24,8 miliar melampaui nilai ekspor yang berada di angka USD23,2 miliar.
Kepala Riset NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menilai bahwa defisit ini bukan sekadar anomali bulanan, melainkan indikasi mulai melemahnya sektor-sektor yang selama ini menjadi penopang utama ekspor nasional.
"Berakhirnya surplus perdagangan setelah enam tahun memang menjadi perhatian, tetapi yang lebih penting adalah membaca penyebabnya. Ketika komoditas utama seperti sawit, besi baja, hingga beberapa produk manufaktur mulai melemah secara bersamaan, itu menunjukkan mesin ekspor Indonesia sedang kehilangan tenaga. Jika tidak segera diperkuat, ya ruang surplus perdagangan kita jelas akan semakin menyempit," ungkap Ade Holis di Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa secara kumulatif periode Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar USD4 miliar. Nilai ekspor mencapai USD115,4 miliar atau naik 3,02 persen secara tahunan, namun angka ini tidak mampu mengimbangi lonjakan impor yang tumbuh 15,24 persen menjadi USD111,3 miliar, sehingga bantalan surplus perdagangan semakin menipis.