Ade menambahkan, penurunan ekspor pada Mei 2026 sebesar 8,30 persen dibanding bulan sebelumnya disebabkan oleh pelemahan komoditas unggulan seperti minyak sawit, besi dan baja, mesin elektrik, tembaga, hingga produk kimia.
“Struktur ekspor Indonesia ini masih sangat terkonsentrasi, bahkan selama periode 2021-2025, sekitar 65,98 persen ekspor nasional hanya ditopang oleh 10 kelompok komoditas, seperti bahan bakar mineral yang menjadi kontributor terbesar, kemudian minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, serta kendaraan bermotor,” paparnya.
Ketergantungan pada sejumlah komoditas tersebut membuat kinerja perdagangan Indonesia menjadi sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi global. Oleh karena itu, NEXT Indonesia Center menekankan pentingnya diversifikasi ekspor yang bernilai tambah tinggi.
"Memperbaiki neraca perdagangan bukan sekadar mengembalikan surplus bulanan. Hal yang lebih penting adalah membangun struktur ekspor yang lebih beragam, bernilai tambah tinggi, dan mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global. Dengan fondasi seperti itu, ekspor bersih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," tutur Ade.
Pihaknya menyarankan agar pemerintah melakukan penguatan sektor ekspor melalui hilirisasi sawit, transisi energi yang realistis, serta mendorong industri manufaktur dan elektronik sebagai mesin pertumbuhan baru guna menjaga resiliensi ekonomi nasional di masa depan. (Wahyu Dwi Anggoro)